(Narasi oleh Wahyu Nur Rahman dan Abdul Kholiq Kurniawan)
Narasi
Pada hari Selasa 24 Agustus 2021 saya melakukan kunjungan ke salah satu warga di Dusun Bumiharjo. Kunjungan tersebut dilakukan untuk mewawancarai Bapak Harsoyo (47 tahun) yang merupakan ketua dari kesenian dayakan di Desa Bumiharjo periode 1989-2008. Menurut Bapak Harsoyo, dayakan adalah tarian rakyat yang merupakan bentuk kreasi dari Kubro Siswo yang berasal dari Kabupaten Magelang, lebih tepatnya di Desa Tuksongo sebelum tahun 1960. Sebelum dikenal dengan nama dayakan, dahulunya disebut topengan atau Bimo Kroso. Nama topengan sendiri diambil karena pemain menggunakan riasan tebal yang menyerupai topeng. Tujuan dari kesenian ini, sebagai media syiar (menyebar) agama islam. Salah satu desa di Kabupaten Magelang yang masih melestarikan kesenian ini adalah Desa Bumiharjo. Dayakan di desa ini didirikan pada tahun 1979 yang diketuai oleh Almarhum Darsono.
Pada tahun 1989 yang merupakan generasi kedua, dayakan di Desa Bumiharjo disebut dengan Putra Muda. Kostum yang digunakan saat itu adalah janur sebagai pakaian, kuluk yang terbuat dari bulu ayam jago, dan klinthing yang dipakai di kaki untuk memeriahkan tarian. Pengiring tarian dayakan berupa gamelan dan seorang penyanyi. Gamelan yang digunakan adalah jedor yang terbuat dari batang pohon kelapa dan kulit sapi, teplak, dan terbang. Dulunya (1989), jumlah anggota penari dayakan adalah 40 orang dan 1 kepala suku. Dalam satu minggu dayakan di desa ini melakukan latihan sebanyak dua kali, yaitu pada malam Kamis dan Sabtu atau Rabu dan Minggu di depan masjid Dusun Sigug. Gerakan tarian dayakan di desa ini seperti halnya gerakan tarian di Desa Tuksongo dan Tidaran yaitu klasik.
Selain dayakan, dalam satu pertunjukan biasanya disertai dengan penampilan kewan-kewanan dan barongan. Melihat tujuan dari adanya dayakan kewan-kewanan dan barongan ini juga dimaksudkan sebagai salah satu syiar agama Islam. Di dalam pertunjukan kewan-kewanan terdapat filosofi bahwa sejatinya manusia yang hidup dengan sifat dan perbuatan tercela akan berubah menjadi hewan ketika meninggal nanti dan disiksa menggunakan “pecut”. Terhitung sampai saat ini, dayakan di Desa Bumiharjo sudah sampai empat generasi. Dari keempat generasi tersebut, kesenian ini telah berhasil tampil sampai luar daerah seperti di Prembun, Kebumen.
Gambar
Lokasi
map
Narasumber
- Bapak Harsoyo, 47 tahun, pelaku budaya ketua dari kesenian dayakan (1989-2008), desa Bumiharjo