(Narasi oleh Arif Sutoyo dan Nur Kholiq)

Narasi

Kali Sileng merupakan jalur perairan yang terbentuk secara alami dan menjadi bagian dari kekayaan sumber daya alam di wilayah Kecamatan Borobudur. Sungai ini terletak di arah selatan dari Candi Borobudur. Aliran Kali Sileng melewati banyak desa di sekitar Kecamatan Borobudur. Banyak juga wilayah desa yang menggunakan Kali Sileng sebagai batas wilayahnya. Ungkapan “wong kidul Sileng dan lor Sileng” atau “orang selatan (Kali) Sileng dan utara (Kali) Sileng”, dahulu cukup terkenal ketika musim tawuran antar kampung masih marak. Aliran Kali Sileng juga melewati wilayah Desa Ngargogondo, tepatnya di bagian timur dan utara Dusun Parakan. Bagian utara berbatasan langsung dengan Dusun Soropadan dan Desa Wanurejo, serta Dusun Palihan dan Desa Candirejo di sebelah timur.

Klatakan

Keberadaan sungai ini memberikan manfaat yang sangat besar bagi warga sejak dulu hingga saat ini. Selain untuk keperluan mandi dan mencuci, tersedia pula banyak  material tambang untuk bahan bangunan berupa batu kali dan pasir. Saat musim kemarau tiba, pinggiran sungai (klathakan) juga difungsikan untuk lahan pertanian dengan tanaman yang bersifat sementara dan cepat panen seperti bayam, mbayung (lembayung) atau kacang tolo, serta rumput kolonjono untuk pakan ternak. Bahkan, dahulu ketika kemarau panjang, warga membuat sebuah ceruk di pinggir sungai untuk diambil airnya dan digunakan untuk kebutuhan makan dan minum.

Berikut adalah aktivitas warga di Kali Sileng:

Pengairan

Menggunakan bantuan tenaga mesin diesel dan selang panjang sebagai alat penyedot, para petani menggunakan air sungai untuk pengairan tanaman di ladang yang letaknya berdekatan dengan sungai  pada musim kemarau.

Kegiatan pengairan lainnya adalah menyiram bibit cabe rawit di pinggir kali dengan alat gembor saat pagi/sore hari. Sebelum musim tanam tiba, biasanya para petani mempersiapkan bibit dahulu secara pribadi yang dilakukan di pinggir kali, dengan cara membuat lahan kecil yang sekiranya cukup untuk mengawali pembibitan. Setelah musim penghujan hampir tiba, barulah bibit itu dicabuti untuk kemudian dipindah tanam di lahan pertanian.

Sayuran

Saat air surut karena dampak musim kemarau, sebagian warga memanfaatkan keberadaan pinggiran sungai sebagai lahan kecil pertanian, dengan ditanami berbagai macam sayuran seperti kacang tolo mbayung, bayam, dan kangkung. Tanaman tersebut dibiarkan hanya sampai akhir musim kemarau. Ketika musim penghujan tiba, klathakan itu tidak bisa dimanfaatkan lagi karena aliran air akan deras, kadang sampai banjir.

Pertambangan

Selama ini, Kali Sileng menyediakan material alam berupa pasir dan batuan kali. Masyarakat memanfaatkan bahan-bahan tersebut untuk dibawa pulang ke rumah dan dijadikan bahan bangunan, baik untuk keperluan sendiri maupun dijual seperti yang dilakukan oleh Pak Sutrisno (60-an tahun). Hingga kini, Pak Sutrisno masih thithik watu atau mencari batu-batu kali dan dijadikan kerikil dengan cara dipecah dengan menggunakan palu untuk dijual. Namun, aktivitas pertambangan sebagaimana dicontohkan di atas jarang dilakukan pada musim penghujan. Saat musim hujan tiba, Kali Sileng akan sering mengalami banjir, meskipun tidak sampai meluap ke ladang warga. Banjir itulah yang menghanyutkan material seperti  bebatuan dan pasir.

Mandi & mencuci

Kini, aktivitas mandi di Kali Sileng sudah tidak sesering sebelumnya, bersamaan dengan adanya sarana toilet di rumah-rumah warga. Meski demikian,  masih banyak warga Desa Ngargogondo, mulai dari dewasa hingga anak-anak, yang  masih memanfaatkan aliran air kali, terutama ketika musim kemarau untuk kebutuhan mandi dan mencuci pakaian.

Area bermain

Selain itu, ketika musim penghujan tiba, Kali Sileng menjadi arena mandi sambil bermain anak-anak. Ada yang membuat perahu gethek dari pohon pisang untuk dinaiki di atas air atau ngeli/kelen yang berasal dari kata keli yang artinya hanyut. Ada pula yang jlok-jlokan atau terjun bebas dari pinggir sungai yang tinggi lalu menceburkan diri ke kedung atau bagian sungai yang dalam.

Mencari ikan

Mencari ikan di Kali Sileng sudah dilakukan para pencari ikan sejak dahulu mulai dari yang memasang rumpon atau jebakan, memancing, dan menjala.

Rumpon (Jebakan Ikan)

Saat musim kemarau, ada bagian sungai yang tidak terlalu banyak dialiri air, namun diyakini warga bahwa ikan bisa datang dan melewati itu. Oleh sebab itu, dibuatlah bendungan kecil yang di tengahnya diberi tumpukan dedaunan dan ranting hingga rapat agar dapat menjadi sarang ikan. Setelah beberapa hari  pemasangan, rumpon siap dipanen dengan cara menutup rapat bendungan kecil tersebut secara melingkar. Setelah itu, dedaunan dan ranting yang sebelumnya digunakan sebagai sarang ikan diambil dan dibersihkan, kemudian dikuras. Apabila beruntung, akan diperoleh cukup banyak ikan yang terjebak di rumpon itu.

 Jala

Jala adalah alat penangkap ikan dari bahan senar yang dibuat anyaman jaring melingkar, melebar dan bagian bawah terdapat rantai sebagai pemberat supaya jala bisa tenggelam di air. Hingga kini, masih ada warga Desa Ngargogondo yang masih menangkap ikan menggunakan jala di Kali Sileng, meskipun sudah tidak sebanyak dulu. Dulu, para penangkap ikan ini bahkan juga membawa kepis dari anyaman bambu yang digunakan sebagai tempat menyimpan ikan saat menjala.

Nazik (25 tahun) adalah salah seorang warga Dusun Wagean. Di sela-sela kegiatannya bertani di ladang, Ia sering menyempatkan diri menjala ikan di Kali Sileng pada siang atau sore. Selain sebagai hobi, hasil ikan dari kegiatan menjala ini juga dapat dimanfaatkan sebagai lawuh (lauk) makan makan. Bila beruntung, biasanya ikan yang terjaring di jala Nazik adalah ikan wader, kekel, kutuk atau gabus, dan lainnya.

Jala ikan yang digunakan Nazik berbentuk lingkaran. Jala seperti ini harus dilempar dengan teknik khusus agar dapat menjebak dan menangkap ikan. Cara menggunakannya adalah dengan berdiri menyandang sebagian daun jala, sebagian lagi dipegang menggunakan tangan kiri dan kanan. Kemudian dengan ancang-ancang yang cukup, jala diayun dan dilemparkan ke lokasi yang diduga terdapat ikan. Jala akan mengambang dan memerangkap ikan, setelah itu ditarik perlahan agar ikan yang telah terperangkap dalam jala tidak lepas dari jala. Sebagai pemberat jala, digunakan gelang timah berbentuk rantai. Cincin rantai pemberat jala ini akan membuat ikan tidak bisa berkutik dan lepas dari perangkap jala.

Pancing/Memancing

Selain dari warga Parakan dan sekitarnya, sejak dulu, pemancing yang datang untuk mencari ikan juga banyak dari luar desa, terutama ketika awal kemarau tiba.

Susur sungai

Dalam dunia kepariwisataan, warga juga memanfaatkan sebagian alur Kali Sileng untuk wisata susur sungai dengan menggunakan mobil Jeep.

 

Gambar

Lokasi

map

Narasumber

  • Mbah Nurkholiq, 60 tahun sesepuh desa, Dusun Parakan Desa Ngargogondo
  • Mbah Sutrisno, 60 tahun, sesepuh desa, Dusun Parakan Desa Ngargogondo.

Relasi Budaya

Sumber Lain

Dari Kanal

Ulasan...