(Narasi oleh Wahyu Nur Rahman dan Abdul Kholiq Kurniawan)

Narasi

Tim desa Bumiharjo ditemani oleh teman teman KKN UNY yaitu Wafi jurusan Bahasa Inggris dan Linda jurusan Bahasa Jawa kita berangkat ke kali winong di sebelah timur Dusun Sigug. Kali Winong berada dibawah 2 kuburan keramat dan kuburan besar. Namun kali winong ini sangat diminati oleh warga desa untuk mandi dan mencuci. Sewaktu disana, kami bertemu dengan Cak Harso ketua dari dayakan desa Bumiharjo. Kami mencari dan menghitung pancuran di tempat itu yang konon katanya ada 7 buah pancuran yang tersebar di daerah tersebut. Ternyata 2 pancuran berada agak jauh dari 5 pancuran yang ada.

Tempat Wingit

Ketika kami pulang sudah bertemu Bapak Marsudi ketua RT 5 di Dusun Sigug, dan kami bertanya “sekarang siapa yang merawat kali ini sekarang?” dan dia menjawab “riyen Mbah Hali, tapi sakniki kadose Mbah Waribi”. Dan Ketika kita naik ke atas bertemu lagi orang yang mau mandi yaitu Muji anak RT 08 sigug. Kita bertanya apakah ada tempat yang wingit, dia menjawab, “Paling yo mung neng watu kui. “Biasane ono ketok uwong jagong” yang artinya, kemungkinan di batu tersebut kelihatan ada seseorang yang sedang duduk.

Pantangan Mencuci Abrak

Hari berikutnya kita ke tempat Cak Harso yang sering mandi di sana. Kalau masalah larangan dan sebagainya hanya saja kalau kita mencuci abrak, piring gelas dans ebagainya pasti setelah itu ada orang di dusun itu terkena musibah sakit. Sehingga warga tidak pernah lagi mencuci abrak di tempat itu.

Mbah Setro Rejo

Perjalanan kita berlanjut ke tempat Mbah Hali Dimejo alias Tajud yang dulu merawat sendang kali winong. Mbah Hali yang katanya lahir 1917 (namun jika kita telusur ke kartu keluarga beliau kelahiran 1920) adalah salah satu perawat kali tersebut. Sendang tersebut dibuat oleh simbah dari mbah hali yang Bernama Mbah Setro Rejo. Jadi bisa dikatakan bahwa kali winong sudah dibuat pada kurang dari tahun 1890an. Kali Winong juga dirawat ayahnya Mbah Hali Bernama Hali Rejo sampai meninggal. Sekarang diteruskan oleh Mbah Hali sampai tahun 2016 lalu karena Kesehatan dari Mbah Hali berkurang. Sangat disayangkan anak dari Mbah Hali tidak ingin yang mewarisinya karena akta tanah sudah berpindah kepada orang lain.

Merendam Pandan

Pada setiap malam jumat, di kali winong dapat dipastikan ada sesaji yang diletakkan diatas batu. Entah dari warga setempat atau dari luar daerah. Kali winong juga dipercaya dapat membersihkan jin yang menempel ditubuh dengan cara mandi di kali winong dengan membawa kembang yang dijadikan sebagai syarat. Tutur Mbah Hali pemberian kembang tersebut sebagai upah atau makanan kepada yang menjaga kali sehingga air tidak pernah mati dan keselamatan bagi semuanya. Kali winong dulu bukan hanya untuk mandi tapi juga untuk merendam daun pandan untuk bahan utama pembuatan kloso. Daun pandan direndam satu malam dan paginya diambil dan dikukus, setelah itu baru dijemur sehingga warna daunnya menjadi putih, misal tidak dikukus akan berwarna agak kecoklatan.

Jalan tangga

Sekarang kali winong ada sumber listrik sampai bawah sehingga pada malam hari masyarakat dapat  mandi. Selain itu, pemerintah desa bekerjasama dengan pemerintah dari Jateng untuk menaikkan sumber atau air ke Dusun Sigug. Namun proyek tersebut mangkrak akibat pihak ketiga yang mengerjakan tidak menyerahkan ke pihak desa atau serah terima, jadi pihak desa merasa belum bisa menggunakannya. Pada tahun 2017 juga pernah dibuat terasering dan jalan ke kali winong agar tidak licin. Jalan tangga yang dari atas ke bawah sebanyak 63 tangga, dan tangga bawah cukup tinggi yaitu 30-45 cm.

 

Gambar

Lokasi

map

Narasumber

  • Cak Harjo, pemerhati budaya, desa Bumiharjo
  • Pak Marsudi, ketua RT 5, dusun Sigug desa Bumiharjo

Relasi Budaya

Sumber Lain

Dari Kanal

Ulasan...