Secara ekonomi, produk produk yang berasal dari bambu memiliki nilai yang baik. Banyak produk produk yang dihasilkan mulai dari :
- Pangan; Masakan rebung, daun dibuat kerupuk dan sebagai pembungkus berbagai jenis makanan serta obat obatan untuk kesehatan arang bambu dan tea penurun demam, batuk, jantung, sesak napas,), dll, serta teknologi pertanian/ pengairan/ perikanan/ peternakan untuk pengolahan pangan, dan dapur untuk pengolahan pangan pasca panen yang berbahan dari bambu pula). Rebung juga dapat dijual segar, diolah menjadi sayur, keripik, acar, hingga bahan pangan olahan khas daerah. Selain rebung, bambu juga sering menjadi alat dan wadah pengolahan makanan, misalnya untuk memasak nasi bambu, lemper, atau berbagai pangan tradisional yang justru memberi nilai jual lebih tinggi karena unsur pengalaman budaya. Dalam konteks desa wisata atau pasar budaya, ini bisa menjadi sumber pendapatan tambahan bagi petani, pedagang, dan pelaku kuliner.
- Sandang; serat yang kandungan anti bacterialnya tinggi untuk pembuatan pakaian, handuk, kaos kaki, bahan untuk asesoris, topi, dll ). Nilai ekonominya muncul dari rantai usaha yang cukup panjang: budidaya bambu, pengolahan serat, produksi kain, sampai produk jadi. Di beberapa tempat, bambu juga dimanfaatkan untuk anyaman aksesori dan kerajinan yang masuk ke pasar wisata maupun pasar desain.
- Papan; tehnik arsitektur, bahan bangunan, jembatan, papan lembaran, lantai, meubel, tikar, kerajinan. Bambu dipakai untuk bahan bangunan, seperti tiang, dinding, lantai, rangka atap, pagar, gazebo, panggung, hingga furnitur. Karena pertumbuhannya cepat dan bisa dipanen berkala, bambu menjadi bahan yang relatif efisien dibanding kayu. Di desa-desa, pemanfaatan ini membuka mata pencaharian bagi petani bambu, penebang, pengrajin, tukang bangunan, sampai pelaku usaha konstruksi dan arsitektur bambu.