Beranda | Pitutur Bambu Borobudur 2022 | Pelaksanaan |Workshop Wayang Siladan
Workshop Wayang Siladan





Pada hari kedua (21/12), kegiatan dimulai pada siang hari dengan diadakannya workshop Wayang Siladan yang diisi oleh Mas Fuat dari Desa Kebonsari dan workshop Wayang Clumpring oleh Mas Putro dari Desa Giritengah. Kegiatan ini dimulai pukul 13.30 WIB sekaligus menjadi aktivitas utama dalam open gate festival Pitutur Bambu Borobudur. Para narasumber workshop datang tepat pada waktunya, hanya saja para pengunjung yang masih sedikit menjadikan workshop baru diikuti oleh sedikit peserta.
Pada pukul 14.30 WIB, ada rombongan anak muda yang berasal dari berbagai daerah yang sedang melaksanakan studi di Kota Magelang, mereka mendapatkan info mengenai pitutur bambu ini melalui sosial media. Mereka yang akhirnya menjadi peserta untuk workshop wayang clumpring dan wayan siladan. Bagi mereka, wayang tersebut cukup asing sehingga menjadi alasan bagi mereka untuk mencoba membuatnya. Kemudian satu persatu anak-anak yang pada waktu pembukaan diberi tahu akan ada kegiatan workshop setiap harinya mulai berdatangan dan bermain-main di area dolanan dan ruang pameran dolanan serta mengikuti workshop pada hari pertama.
Rangkaian festival Pitutur Bambu Borobudur diisi berbagai kegiatan workshop yang diselenggarakan setiap hari. Hal ini menjadi momentum yang pas untuk memberikan ruang kepada para pelaku bambu di kawasan untuk bisa mengeksplorasi sekaligus membagikan ilmu bermanfaat yang dimiliki kepada khalayak umum.
Namun disadari bahwa waktu pelaksanaan festival yang terbatas tidak akan cukup untuk memberikan ruang kepada semua pelaku bambu di Kawasan Borobudur sehingga workshop ini dikerucutkan dan lebih dikhususkan kepada anak-anak sebagai generasi penerus bangsa yang perlu diberikan ruang untuk mengenal manfaat bambu dan mengembangkan daya kreativitasnya.Meski demikian, pengunjung remaja hingga dewasa tetap diperbolehkan untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini tanpa persyaratan apapun.
Wayang siladan adalah wayang yang terbuat dari bahan bernama iratan atau potongan pipih bambu sebagai bahan kerajinan anyaman. Workshop ini diampu oleh seorang pelestari dolanan berbasis bambu bernama Mas Fuat Hasyim dari Desa Kebonsari. Dalam proses pembuatan wayang siladan, peserta belajar mengasah ketekunan dan kesabaran karena memerlukan konsentrasi yang cukup tinggi agar bisa menjadi sebuah wayang siladan yang bagus. Cara membuatnya dimulai dari kepala wayang dengan melakukan lipatan dan sisipan. Proses pembentukan wayang inilah yang harus diajarkan karena jika tidak tahu cara memulainya akan sangat sulit untuk dilanjutkan hingga membentuk sebuah karakter wayang.
Wayang siladan di Desa Kebonsari telah menjadi media edukasi bagi anak-anak, sebab wayang bisa diperankan menjadi karakter tertentu tergantung imajinasi anak dalam memainkannya. Tatkala wayang dimainkan oleh dalang dan wayang tersebut diberi nama seorang anak yang turut workshop, maka dalang akan memberikan nasihat-nasihat kepada si anak sesuai arti nama anak yang diberikan melalui wayang tersebut. Hal ini menjadi menarik dan memberikan kesan tersendiri bagi si anak. Selain nasihat, dalam bermain wayang siladan seorang dalang juga bisa memberikan pituturan atau ajakan-ajakan kebaikan untuk anak-anak seperti nasihat untuk membuang sampah pada tempatnya, giat belajar, mengaji dan hal-hal lain yang baik dalam kehidupan sehari-hari dengan tujuan menanamkan benih karakter yang baik bagi anak-anak yang mengikuti kegiatan wayang siladan.