- Materi ini disampaikan dalam Sarasehan Kesenian Gatholoco ‘Angudhari Lakuning Mangsa’ yang diselenggarakan pada Rabu 10 Juni 2026 .
- Pemateri Hari Setyawan, S.S., M.T adalah seorang arkeolog serta Pamong Budaya MCB Warisan Dunia Borobudur
Di awal beliau menyampaikan secara umum di masyarakat Jawa Kuno bahwa kesenian menjadi ekspresi masyarakat yang agraris dimana kesenian yang menampilkan gerak serta menyanyikan ‘tembang’ sudah ada sejak masyarakat Jawa Kuno.
Sebagai masyarakat agraris, relief Borobudur sangat detail menggambarkan tanaman-tanaman yang dibudidayakan serta memiliki makna penting pada saat itu. Kedetilan penggambaran tumbuh-tumbuhan ini sangat berbeda dengan relief di lokasi lain misalnya di Stupa Sanchi (India) atau di Angkor Wat (Kamboja) di tahun yang sama. Selain digambarkan lebih detail, tanaman-tanaman tersebut juga merupakan tanaman-tanaman tropis (tanaman lokal).
Secara umum beliau mengulas dari masyarakat Jawa Kuno yang agraris, telah menerapkan pola bercocok tanam yang kemungkinan besar juga sudah memiliki sistem pranata mangsa. Beliau mengulas dari fakta-fakta yang terkuak dalam relief-relief di Candi Borobudur serta prasasti peninggalan di sekitar tahun tahun didirikannya Borobudur.
Diatas cuplikan pemaparan beliau secara langsung.