Terkait objek pemajuan kebudayaan berupa kesenian, Desa Giritengah memiliki banyak sekali jenis kesenian seperti jathilan, kethoprak, ndolalak, pituturan, dan wayang. Salah satu kesenian pituturan yarg berkaitan erat dengan pranata mangsa adalah kesenian gatholoco yang bernama Madya Pitutur. Beberapa kandungan syairnya adalah pengetahuan tentang petung hari yang cocok dalam penentuan waktu tanam dan panen pertanian, selain pengetahuan mengenal kalender pranata mangsa.
Menurut Mbah Gito, gatholoco berasal dari kata “gathuk” dan “lucu yang berarti “bertemu” dan “lucu”. Jadi, terdapat banyak hal yang dipertemukan hingga menjadi sebuah kelucuan.
Daftar isi
Toggle
Kesenian Gatholoco merupakan salah satu kesenian yang berisi tentang pitutur-pitutur Jawa. Kesenian ini menceritakan tentang Pitungan Jawa atau Primbon, tenang mangsa, weton lahir dan nasehat-nasehat kehidupan.
Kesenian gatholoco memuat pitutur kehidupan mulai dari kelahiran seseorang, tata cara bermasyarakat seperti bertani, ber-dagang, beternak, dasar dalam menghitung atau meramal rezeki, jodoh dan kesuksesan berdasarkan weton seseorang, hingga penentuan upacara kematian. Bisa dikatakan bahwa kesenian gatholoco merupakan kesenian yang memuat tuntunan kehidupan bermasyarakat.
Oleh karena itu, gatholoco kebanyakan dipentaskan dalam acara tertentu, misalnya ketika ada masyarakat yang sedang slametan. Slametan merupakan sebuah acara untuk mensyukuri nikmat Tuhan Yang Maha Esa atas anugerah/rezeki yang didapatkan. Selain itu, bisa juga dipentaskan untuk memenuhi nadzar, ada pula pementasan pada acara pernikahan dan khitanan.
Dilihat dari sejarahnya, gatholoco ini termasuk salah satu kesenian tua yang masih dilestarikan oleh masyarakat Giritergah. Menurut Mbah Gito, kesenian ini sudah ada sejak lama. Di Giritengah sendiri, gatholoco pertama kall masuk pada tahun 1972. Kesenian ini dikenalkan oleh seseorang yang bernama Karyodimedjo. Mbah Karyodimedjo sebelumnya sudah mengenal kesenian ini dari nenek moyangnya. Mbah Karyodimedjo kemudian mengenalkan kesenian ini kepada beberapa orang di Dusun Kamal seperti Mbah Gito, Mbah Gino, dan Mbah Surodimedjo. Saat Ini, anak cucu Mbah Karyodimedjo juga masih ada yang meneruskannya sebagai anggota kesenian.
Dalam pementasan gatholoco, ada satu orang yang menjadi bawa atau penyanyi solo. Ketika menyanyi, bawa diiringi dengan alat musik berupa dodog kecil, dodog tanggung, jedor dan terbang. Dadog merupakan alat musik berbentuk tabung yang pada salah satu sisinya ditutupi dengan kulit dan ditabuh dengan telapak tangan. Jedor sendiri bentuknya hampir seperti dodog namun ukurannya lebih besar dan peng-gunaannya ditabuh dengan alat tabuh. Bawa menyanyikan syair yang berisi tentang tuntunan dan ajaran dalam proses ber-masyarakat.
Kitab Gatholoco
Dalam kitab gatholoco termuat 28 syair yang berisi macam-macam tata laku orang Jawa dalam berkehidupan, mulai dari pendidikan anak, tanggalan Jawa, penentuan jodoh, hingga pranata mangsa yang sangat erat kaitannya dengan profesi mayoritas penduduk Desa Giritengah yaitu bertani.
Lirik lagu ‘Mangsa Kasa
Mangsa kasa-mangsa kasa tanggale senen-kliwon
Tengange-tengange tigang pecak-tigang-pecak
Ngasare-ngasare sepuluh pecak-pecak
Umurnya-umurnya patang puluh siji dina
Mangsa karo-mangsa karo tanggale senen-paing
Tengange-tengange anarong pecak-anarong- ecak
Ngasare-ngasare ono sangang pecak-pecak
Umurnya-umurnya telu likur-telu likur dina
Ketelu-ketelu tunggale rebo kliwon
Tengange-tengange pecak sewiji-sewiji
Ngasare-ngasare ono wolung pecak-pecak
Umurnya-umurnya patlikur dina-dina
Mongsa kapat-mangsa kapat tanggale-jemuah pon
Tengange-tengange wis ketumbuk-ketumbuk
Ngasare-ngasare ono pitung pecak-pecak
Umurnya-umurnya selawe dina-dina
Kelima-kelima tanggale senin pahing
Tengange-tengange pecak sewiji-sewiji
Ngasare-ngasare ono wulung pecak
Umurnya-umurnya pitu likur-likur dina
Mangsa kanem-mangsa kanem tanggale-jemuah paing
Tengange-tengange ana rong pecak ana rong- pecak
Ngasare-nyasare ana sangang pecak-pecak
Umurnya-umurnya patung puluh-patang- puluh dina
Kepitu-kepitu tanggale kemis pon
Tengange-tengange pecak sewiji-sewiji
Ngasare-ngasare ana wulung pecak-pecak
Umurnya-umurnya patang puluh-puluh teludina
Kewolu-kewolu tanggale rebo wage
Tengange-tengange wuske tumbuk-tumbuk
Ngasare-ngasare ana pitung pecak-pecak
Umurnya-umurnya selawe dina-dina
Kesanga-kesanga tanggale ngahat wage
Tengange-tengange pecak sewiji-pecak sewiji
Ngasare-ngasare ana wolong pecak-pecak Umurnya-umurnya nemlikur dina
Sedasa-sedasa tanggale rebo pon
Tengange-tengange ana rong pecak-pecak
Ngasare-ngasare ana sangang pecak-pecak
Umurnya-umurnya ana pat likur dina-dina
Mangsa desta-mangsa desta tanggale senin paing
Tengange-tengange ana telung pecak-pecak
Ngasare-ngasare sepuluh pecak-pecak
Umurnya-umurnya ana telulikur-telulikur dina
Mangsa sada-mangsa sada tanggale rebo- kliwon
Tengange-tengange ana telung pecak-pecak
Ngasare-ngasare sepuluh pecak-pecak
Umurnya-umurnya patang puluh siji dina.
Makna Lagu Mangsa Kasa
Lagu Mangsa Kasa ini menjelaskan tanda-tanda alam dari 12 mangsa atau musim dalam perhitungan Jawa. Tanda-tanda yang dijelaskan umumnya adalah hari dimulainya satu musim, tanda bayangan yang muncul akibat gerak matahari, dan usia musim tersebut. Misalnya saja, dalam bait pertama yang menjelaskan mangsa kasa atau musim pertama, disebutkan bahwa mangsa kasa dimulai dari hari Senin Kliwon. Selanjutnya, lirik “tengange-tengange tigang pecak-tigang pecak” menjelaskan bahwa bayangan yang muncul akibat sinar matahari saat mangsa kasa ketika “tengang” atau tengah hari/siang hari adalah “tigang pecak” atau tiga kali
ukuran panjang telapak kaki orang dewasa. Sedangkan “ngasare-ngasare sepuluh pecak-pecak” menjelaskan bahwa ketika ashar/sore hari di musim kasa, bayangan yang muncul adalah “sepuluh pecak” atau sepuluh kali ukuran panjang telapak kaki orang dewasa. Terakhir, dijelaskan bahwa umur mangsa kasa adalah 41 hari. Lagu ini terdiri dari 12 bait, di mana setiap bait menjelaskan tanda-tanda tersebut dalam 12 musim pertanian pada perhitungan pranata mangsa.
Kostum dalam Kesenian Gatholoco
Menurut penuturan Mbah Juni, salan satu tokoh Gatholoco, kostum dan atribut yang digunakan dalam keseman gatholoco tidak ada yang paten.
Pakalan yang digunakan untuk ke-senian gatholoco saat ini masih menggunakan atribut yang sama dengan gatholoco pada tahun 1972 dengan alasan keterbatasan pendanaan. Atribut yang digunakan di kepala terdiri dari iket atau ikat kepala dan kacamata hitam. Kostum yang digunakan gatholoco adalah baju berwarna putih dengan lengan panjang dan rompi berwarna merah dengan bordir tulisan “Gatholoco Madyo Pitutur” di bagian belakang. Para penari biasanya juga menggunakan ikat pinggang berwarna hitam yang dilengkapi dengan sampur berwarna kuning. Di atas ikat pinggang ada selendang berwarna kuning sebagai pelengkap. Terakhir, di bagian khaki, ada kaos kaki berwarna senada dengan rompi. Satu kali pentas, gatholoco dapat menghabiskan waktu lebih dari empat jam. Dalam pementasan tersebut, ditampilkan beberapa syair lagu yang pada setiap syair tersebut memiliki jenis tariannya masing-masing. Selain itu, ada juga atraksi kesenian tradisional seperti ulo-ulonan, kayang rambat, stenden, dan atraksi lain.

Selain menggelar pentas di desa, kesenian Gatholoco Madyo Pitutur Dusun Kamal ini juga pernah tampil di Candi Borobudur dalam acara mingguan yang digelar oleh ASKRAB (Asosiasi Kesenian Rakyat Borobudur) pada 2012 dan pernah tampil dalam Fertival Seni Tradisi Islam Nusantara yang diadakan oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga pada tahun 2017. Kesenian ini juga biasa tampil dalam acara merti dusun yang digelar pada bulan Sapar. Acara merti dusun adalah acara yang digelar satu kali dalam setahun dalam rangka mensyukuri nikmat Tuhan YME, berharap penduduk dihindarkan dari mara bahaya dan berdoa demi kelancaran panen pada musim tanam selanjutnya. Beberapa penduduk masih percaya jika acara ini tidak dilaksanakan maka akan berpengaruh pada hasil panen berikutnya hingga gagal panen, dari situlah kenapa merti dusun ini sedapat mungkin digelar atau dilaksanakan meski dalam bentuk yang sederhana.
Menurut Pak Darminto, salah satu penari gatholoco, dirinya merasa senang ketika berlatih maupun saat mementaskan kesenian gatholoco. Meski menjadi penari, ia juga bisa menyanyikan syair-syair dalam kesenian gatholoco.
Dalam kehidupan sehari-harinya pun ia juga mengamalkan pesan-pesan yang terkandung dalam syairnya. Secara umum, masyarakat juga sangat senang akan kesenian ini karena bukan sekadar menyajikan tontonan namun juga tuntunan seperti yang dilakukan oleh Pak Darminto. Dukungan pemerintah desa diwujudkan dengan menjadikan kesenian ini sebagai kesenian yang wajib ditampilkan dalam acara desa, seperti saat gelar budaya desa memperingati ulang tahun Giritengah.
Kelompok kesenian Gatholoco Madyo Pitutur dari Dusun Kamal saat ini sebagian besar anggotanya sudah menginjak usia senja, seperti Mbah Gito, Mbah Juni, dan Pak Darminto. Mereka berharap, kesenian ini dapat diteruskan oleh generasi muda. Hal ini tentunya karena mereka begitu paham dalam kesenian ini, tidak hanya memuat tari-tarian atau nyanyian semata namun juga memuat pesan-pesan yang sampai saat ini masih menjadi pegangan masyarakat dalam berkehidupan.