“Gatholoco – Ruang Seni Perempuan Candirejo” Publikasi Lokakarya OPK 2023

Kebudayaan adalah milik rakyat pengusungnya. Kerap kali pewarisan pengetahuan di dalamnya tidak disadari, atau berlangsung dengan senyap. Melalui pencatatan dalam buku ini, diharapkan pengetahuan akan kebudayaan tersebut dapat diwariskan dengan baik, tidak hanya sekadar menambah pengetahuan, melainkan juga menumbuhkan kepedulian dan rasa memiliki, hingga kebudayaan tersebut dapat terlindungi, sebagaimana termaknai dalam ungkapan…

mangasah mingising budi, hamemangun rasa handarbeni

…mengasah ketajaman akal budi, membangun rasa memiliki demi melindungi.

Jika pada umumnya kesenian gatholoco di tempat lain ditarikan oleh kaum laki-laki, maka kita akan melihat pemandangan yang berbeda saat menyaksikan kesenian gatholoco dari Desa Candirejo. Di sini, kaum perempuan menjadi penari yang menghibur para penontonnya.


Gatholoco, Ruang Seni Perempuan Candirejo

Sejarah…

Perempuan yang menjadi penari dalam kesenian ini berawal pada tahun 2017 saat Ibu Sri Budiyatiningsih (48), selaku ketua penggerak PKK menginginkan adanya penampil kesenian tradisional yang dimainkan oleh penggerak PKK Desa Candirejo dalam acara peresmian Balkondes se-Kecamatan Borobudur. Bapak Singgih (53), selaku lurah desa pun menyarankan untuk memainkan gatholoco sebagai kesenian yang akar disuguhkan.

Berawal dari hal tersebut, gatholoco yang sebelumnya vakum untuk beberapa waktu, termotivasi dan mulai bergerak untuk berkesenian lagi. Hal ini sekaligus menjadi tonggak baru gatholoco Desa Candirejo yang dilsi oleh para penari perempuan. Sebab, para penari bahkan pemusik dari kaum laki-laki ada yang sudah meninggal, memutuskan berhenti, dan ada pula yang berpindah ke kesenian yang lain. Akhirnya, tiga orang sesepuh yang ada yaitu Mbah Martono, Mbah Jarwo (71), dan Mbath Rambat membangun kembali kesenian ini dengan pengalaman mereka selama puluhan tahun di kesenian ini.

Kelompok ini pun mengumpulkan anggota baru untuk bergabung dan mulai giat latihan untuk pentas. Singkat cerita, kelompok ini telah melaksanakan pementasan dan mendapatkan juara 2 kesenian tradisional dalam rangka peresmian Balkondes tersebut. Kebanggaan dan kepuasan tersebut dirasakan seluruh anggota yang merasa jerih payah mereka membuahkan apresiasi.

Namun lebih dari itu, para penari perempuan ini merasakan kebahagiaan dan ketenangan sendiri saat sedang berjoget mengikuti irama musik dan syairnya. Ketenangan batin itulah yang membuat meraka merasa nyaman dan secara kompak ingin terus bermain gatholoco.

Lahirnya semangat baru….

Sekarang anggota perempuan yang menjadi penari aktif adalah 8 dari 17 orang, yaitu Emut Maryani (46), Enget listiyani (50), Wahyuti (40), Hení(37), Jumarni (41), Siami (43), Ani Andayani (30), Wiwit Yuliatun (45). Mereka adalah penggerak PKK Desa Candirejo sekaligus penari gatholoco dengan berbagai latar pekerjaan seperti ibu rumah tangga, bertani, berdagang, staf pemerintah desa, karyawan dan buruh lepas. Di tengah hiruk pikuk pekerjaan dan kewajiban menggalakkan kegiatan PKK, gatholoco menjadi ruang bagi mereka untuk melepas penat dan berekspresi dalam kesenian.


Nggathukke Lakuning Candra…

Baik Mbah Martono, Mbah Rambat, dan Mbah Jarwo selaku generasi keempat yang tersisa dari kesenian ini kompak menyampaikan bahwa gatholoco berasal dari kata “nggathukke lakuning candra” yang artinya mencocokkan rotasi bulan.

Hal yang dimaksud adalah ilmu pranata mangsa yang terkandung dalam syair-syairnya. Pranata mangsa merupakan Ilmu tradisional masyarakat Desa Candirejo yang dijadikan petunjuk untuk melakukan berbagai jenis aktivitas dalam kehidupannya. Aktivitas tersebut antara lain pertanian, bepergian, menangkap ikan, membongkar atau membangun rumah, hingga tradisi dan ritus yang dilakukan. Ilmu pranata mangsa sampai saat ini masih terus dijalankan oleh masyarakat, terutama orang-orang yang sudah sepuh.

Gatholoco di Desa Candirejo sendiri menurut penuturan para sesepuhnya berdiri sekitar tahun 1920 dan melewati empat generasi sampai sekarang.


Dalam menyajikan hiburan yang layak ditonton, para penari gatholoco juga merias diri sebaik mungkin.

Selain bersolek, penari juga mengenakan kostum yang bisa dengan berbagai atribut untuk sedap dipandang mata. Mbah Jarwo menyampaikan seragam gatholoco pada eranya dulu terdiri dari kepala yang diberi kampuh berupa seperti ikat kepala dan mengenakan kacamata hitam. Pada bagian badan, mengenakan baju berwarna putih lengan panjang dengan ditambah atribut berupa dasi hitam, srempang melintang, kemudian di bahu juga terpasang skoder. Selain menambah daya tarik, skoder juga berguna untuk menahan srempang agar tidak lepas. Bagian pinggang, ada tambahan sampur(selendang) yang digunakan untuk menari. Kemudian pada bagian celana, mengenakan celana pendek biru SMP dan kaos kaki merah sampai di lutut.

Cita cita untuk memiliki kostum sendiri…

Namun, cukup disadari sejauh ini penari perempuan tidak memiliki seragam. Baik dari atas sampai bawah hingga aksesoris, mereka sama sekall tidak memilikinya.

Hingga hari ini pun, seragam yang mereka gunakan jika akan pentas adalah seragam kesenian lain di desa yang dipinjam. Besar harapan mereka bisa segera memiliki seragam sendiri agar lebih leluasa menggunakannya.

Ukuran seragam pun bisa disesuaikan dengan ukuran badan masing-masing penari.


Syair lagu sarat makna…

Syair-syair lagu di dalam kesenian gatholoco memiliki maksud dan makna sendiri. Di antaranya ada 8 tembang.yang cukup sering dilantunkan.

  • Sarju, syair yang bermaksud memberikan penghormatan kepada khalayak penonton.
  • Ambo Sedoyo, syair yang bermaksud memohon izin jika para penari akan masuk untuk menari.
  • Wulang Sunu maksudnya adalah memberikan pelajaran kepada bocah atau anak.
  • Kami Ulun, syair yang menyiratkan tentang perwatakan.
  • Engong Siswo, syair yang menerangkan kehidupan manusia.
  • Ponco Sudo Panikah Nganten, sebuah syair yang mencocokkan tentang pernikahan.
  • Mongso Koso, yaitu syair yang menjabarkan tentang hitungan musim yang berjumlah 12.
  • Lampah Roto, sebuah syair yang menjadi selingan saat menari.

Kedelapan syair itu cukup sering dilantunkan saat pementasan kesenian ini. Cukup disayangkan buku atau kitab syair gatholoco Candirejo ini telah hilang. Namun beruntungnya, kelompok ini sudah memiliki salinan baru yang diketik, sehingga buku salinan ini bisa menjadi bahan belajar oleh para anggotanya.


Gatholoco merupakan sebuah kesenian rakyat yang bernuansa islam. Sedangkan, alat musik kesenian islami yang cukup familiar dari zaman dulu adalah terbang. Gatholoco pun juga menggunakan terbang sebagai alat musiknya.

Lalu ditambah dengan alat musik yang bernama dodhok, yaitu alat musik dengan bentuk mirip kendang namun salah satunya sisinya berlubang. Alat musik lainnya adalah jedhor, berbentuk sama seperti dodhok namun berukuran lebih besar yang berfungsi layaknya bass. Terbang dan dodhok dimainkan dengan cara ditepuk, sedangkan jedhor cara memainkannya dengan dipukul dengan alat pukul jedhor.

Dari dulu hingga sekarang, alat musiknya tidak ada yang berubah. Namun semua alat musik tersebut ada masanya, sehingga perlu direparasi atau diganti jika sudah tidak layak digunakan.


Seni Nggathukke Syair dan Irama…

Secara prinsip, gerak tari di dalam gatholoco ini tidak ada yang baku dan mengisyaratkan pesan khusus. Semuanya hanya nggothukke dengan syair dan iramanya agar padu dan indah untuk dinikmati. Namun jika dilhat secara seksama, ada sedikit banyak gerakan silat di dalam kesenian ini, yang berarti ada unsur mengolah raga. Sehingga, bisa disimpulkan secara sederhana tarian dalam gatholoco adalah aktivitas yang menyehatkan badan. Sedangkan pada sesi tertentu seperti atraksi, terkadang akan ditampilkan dagelan dan juga silat. Tujuannya semata hanya satu, yaitu untuk menghibur penonton yang menyaksikan.

Gatholoco Candirejo merupakan cikal bakal kesenian lain di desa. Maka dari itu, tak mengherankan dulu sering melakukan pementasan di desa. Lebih dari itu, kesenian ini juga kerap tampil di luar desa, bahkan luar kecamatan untuk memenuhi undangan pentas. Kesenian ini juga pernah diundang ke Semarang di Rumah Dinas Kota Semarang, Jawa Tengah. Diceritakan oleh Mbah Jarwo, sebelum pentas para anggota urunan (patungan) untuk membeli make up tahun 60an. Kondisi ini memang cukup berbeda dengan saat ini, kesenian yang diundang pentas akan mendapatkan apresiasi dari pengundang.

Pementasan dulu pun durasinya cukup lama, yakni bisa mencapal satu malam suntuk mulai dari jam 21.00 hingga menjelang subuh. Hal ini tak lain agar semua lagu, tari, dan atraksi dipentaskan. Namun kondisi sekarang lebih luwes, kesenian akan menyesuaikan pesanan durasi si penanggap. Tanggapannya pun dari berbagai macam hajatan seperti khitan, nikahan, nadzaran, merti dusun atau desa, hingga perseorangan. Kesenian ini tidak membedakan sama sekall terhadap siapa saja yang Ingin mengundang mereka untuk pentas.


Pementasan Gatholoco…

Sebelum pentas, tidak ada ritual khusus yang dilakukan oleh kelompok ini. Namun sebelum berangkat, salah satu atau dua orang akan sowan ke rumah Bapak Somo Pawiro di Dusun Brangkal untuk memohon berkah doanya agar rombongan yang diberi kesehatan dan keleancaran dalam melaksanakan pementasan. Namun setelah Bapak Somo Pawiro wafat pada tahun 2010, secara mereka berdoa secara bersama-sama jika akan melakukan pementasan.


Asa yang bersemi kembali…

Asa gatholoco Candirejo tumbuh kembali dengan adanya para perempuan yang menjadi penari dalam kesenian ini. Mbah Martono (77), Mbah Jarwo (71) dan Mbah Rambat (73) pun turun gunung untuk mengajari secara langsung. Mbah Martono, Mbah Karmin (60) dan Mbah Rambat menjadi bowo atau penyanyi, sedang Mbah Jarwo menjadi penari dan atraksi. Berikut juga para pemusik yang kita kenal saat ini yaitu Ali Winarso (59), Wiratno (65), Ambendot (50), Ashari (60an), Ponijo (67), dan Sabil (59). Para anggota kelompok ini bersatu padu menyajikan kesenian gatholoco yang diharapkan bisa menghibur para penonton.

Kelompok gatholoco Candirejo pada masa pandemi covid-19 sempat vakum karena pembatas aktivitas sosial di masyarakat. Kemudian pada tahun 2023 ini, kelompok ini

siap pentas jika ada tanggapan. Mereka akan. tampil sesuai dengan kebutuhan si penanggap kesenian yang menghendaki syair, tari, atraksi ataupun durasi pentas yang diinginkan

Seperti yang tertulis sebelumnya, hingga kini kesenian yang digawangi para penari perampuan ini belum memiliki seragam secara utuh. Mereka ingin kelompok ini memiliki seragam sendiri, termasuk juga para penyanyi dan pengiring musiknya, karena sampai sekarang ketika mereka akan pentas harus mencari pinjaman dulu dari kesenian lain di desa. Keterbatasan juga menjadi alasan mereka mandiri untuk membuat seragam. Hal ini yang menjadi salah satu keprihatinan dari gatholoco Candirejo.


Harapan Para Pelaku…

Bangkitnya kembali gatholoco Candirejo ini membuka harapan baru bagi perempuan. Kesenian ini menjadi wadah para perempuan di seluruh desa untuk berekspresi. Kesenian gatholoco memang cukup unik, sebagai media hiburan dengan tari, dagelan dan akrobatnya, syair-syair yang ada di dalam kesenian ini patut dijadikan salah satu panduan manusia dalam menjalani kehidupannya. Semuanya tercatat dengan baik melalui syair yang sederhana dan mudah untuk dipahami.

Mewakill penari gatholoco, Ibu Emut Maryani memiliki harapan agar kesenian gatholoco harus dipertahankan sebagai bentuk menguri-uri kebudayaan Jawa Darl generasi ke generasi haruslah ada yang meneruskannya agar kesenian ini tidak hilang dan jangan sampai kalah dengan kesenian modern saat ini. Generasi muda utamanya, harus mulai belajar kesenian gatholoco termasuk mempraktikkan ilmu-Ilmu yang terkandung di dalam syairnya.

Senada dengan Bu Emut Maryani, Bapak Singgih Mulyanto selaku Kepala Desa Candirejo ini juga memiliki harapan besar kesenian ini bisa berkembang namun tetap mempertahankan keaslian dari gatholoco ini, baik dari gerak, musik, lagu maupun syairnya. Ini merupakan naluri kita semua untuk melestarikan apa yang telah diwariskan oleh para leluhur. Lebih dari itu, ia juga berharap masyarakat bisa menerapkan syair-syair yang terkandung dalam kehidupannya.

Ulasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel /Konten Terkait