Mata Air dan Penjaganya
Oleh: Nurdin Nasyir Gusfa
Dusun Kerug Batur tampak indah dan berwarna hijau segar jika dilihat dari kejauhan. Secara psikologis warna hijau memberi kesan tenang bagi yang melihatnya. Tidak hanya dari jauh, kehidupan yang ada di dalam Dusun kerug batur juga membawa ketenangan bagi yang mengunjunginya. Ketenangan yang tercermin dari kondisi alam dan masyarakatnya tidak menjadikan semua baik-baik saja. Seperti halnya saat musim kemarau, dusun Kerug Batur menjadi salah satu wilayah yang mengalami kekeringan air. Musim hujan yang begitu memanjakan dengan limpahan air yang mengguyur membuat masyarakat tidak bersiap siap saat musim kemarau datang.
Tidak semuanya lalai akan tugas dan tanggung jawab untuk merawat air. Ada beberapa orang yang sadar akan tanggung jawab untuk merawat air. Salah satunya adalah Bapak Ismoyo, seorang pria berumur 61 tahun yang telah memiliki uban di kepalanya. Keseharian beliau adalah seorang petani kopi dan mencari rumput untuk ternak kambing dan sapi yang dia pelihara.
Dengan usianya yang sudah menua, asam garam kehidupan telah banyak ia rasakan. Hal ini yang membuatnya menjadi lebih peka akan keadaan. Terkait permasalahan air yang selalu terjadi berulang-ulang saat musim kemarau. Beliau berinisiatif untuk tidak membiarkan air hanya mengalir meluber ke bawah. Beliau berinisiatif memasang kran air agar laju air dapat terkontrol. Sumber air utama dusun Kerug Batur berasal dari mata air Clangkring yang berada di dusun Wonokriyo yang berada di atas desa. Pada musim hujan, laju air tidak pernah habis dan melimpah, selang-selang berderet menjalar dari mata air itu menuju rumah para warga, namun jika air sudah penuh tempat penampungan menjadi meluber karena tidak ada keran untuk menutup aliran air. Lama kelamaan tentu cadangan air yang berada diatas akan terus berkurang dan menjadi cepat habis. Atas dasar ini pak Ismoyo berinisiatif untuk menggalakan pemasangan kran air agar dapat terkontrol dengan baik dan cadangan air bisa bertahan dalam jangka waktu yang lama.
Usaha ini ternyata tidak semulus yang dibayangkan, banyak warga yang kurang setuju untuk melakukannya, mereka beranggapan bahwa air seharusnya dibiarkan tetap mengalir ke bawah. Melihat kenyataan ini dia berkompromi untuk mencoba berjalan bersama terhadap kelompok masyarakat yang mau jalan terlebih dahulu. Beliau ingin membuktikan hasilnya terlebih dahulu. Tidak hanya keran air, beliau juga berkeinginan untuk memasang, sistem PAMSIMAS. Dengan program ini harapannya juga proses distribusi air menjadi lebih teratur dan terkontrol karena akan menunjukan berapa kubik air yang mengalir dan dimanfaatkan. Namun, datangnya hal baru selalu memunculkan dua kelompok. Yaitu antara yang mau dan menolak, yang siap dan tidak siap. Dengan adanya PAMSIMAS masyarakat akan dikenakan biaya untuk perawatan. Walaupun mengeluarkan biaya namun harapannya saat kemarau tidak harus mengeluarkan uang lebih banyak.
Ketergantungan dengan sumber mata air tidak bisa terbendung, karena di wilayah Dusun Kerug Batur kondisi lingkungannya cukup sulit untuk dibuat sumur. Ketika air dari mata air Clangkring mulai surut, masyarakat mulai mengantri mengambil air dari sendang-sendang kecil di sekitar dusun, seperti Kali Ploso, Kali Ringin, Kali Kandri. Terkadang mereka harus antri berjam-jam untuk mendapatkan air. Selain itu mereka terkadang juga membeli air dari tangki yang didatangkan dari luar daerah.
Dengan keprihatinan ini beberapa SD akhirnya juga diajak bersama untuk merawat air. Seperti yang dilakukan anak-anak SDK Kenalan ketika akan memperingati hari air mereka berkunjung ke mata air untuk membersihkan mata air dan mengukur debit air. Mata air terkadang tidak bisa hidup sendiri, mereka membutuhkan penjaga untuk bisa merawat dan melestarikan mereka.
Narasumber : Mbah Ismoyo. Dusun Kerug Batur Desa Majaksingi

