Oleh: Fifi Ratna
Kebudayaan dalam suatu daerah seringkali memiliki karakteristik tersendiri yang menjadikannya berbeda dengan kebudayaan yang dimiliki oleh daerah lain. Hal tersebut terjadi karena setiap kebudayaan yang berkembang dalam suatu kelompok masyarakat bercampur dengan kearifan lokal yang ada. Kearifan lokal yang dimiliki oleh suatu kelompok masyarakat sangat beragam, menurut Prayitno (2013) kearifan lokal mencakup banyak hal seperti pemahaman, persepsi, pola pikir, kebiasaan, adat istiadat, kepercayaan, norma, dan tradisi. Semua bentuk kearifan lokal tersebut biasanya muncul dari pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat dan berkembang turun-temurun secara lisan sehingga menyatu dan melekat dalam kehidupan masyarakat. Bahkan, kearifan lokal yang berupa pengetahuan atau kecerdasan lokal tersebut bisa menjadi identitas dasar kebudayaan suatu daerah (Nasruddin, 2010).
Di Desa Kebonsari kearifan lokal yang tampak dalam kehidupan sehari-hari salah satunya dalam segi bahasa. Masyarakat Desa Kebonsari yang memiliki keterkaitaan cukup erat dengan bambu, karena mayoritas masyarakatnya bermata pencaharian sebagai pengrajin dan pemilik bambu, memiliki penamaan tersendiri untuk bagian-bagian bambu mulai dari akar hingga ujung daun. Sebenarnya, pengetahuan tentang penamaan bagian-bagian bambu di Desa Kebonsari bukanlah semata-mata hasil dari kearifan lokal masyarakat setempat, melainkan hasil dari kearifan masyarakat jawa pada umumnya. Hanya saja, di Desa Kebonsari penamaan tersebut masih digunakan hingga saat ini karena keadaan lingkungan fisik Desa Kebonsari yang sebagian besar berupa papringan atau hutan bambu dan masyarakatnya yang dalam keseharian bergelut dengan bambu baik sebagai mata pencaharian maupun dalam aspek kehidupan sosial lainnya.
Penamaan bagian-bagian bambu yang merupakan suatu pengetahuan lokal masyarakat secara turun-temurun masih digunakan sampai saat ini bahkan dalam kehidupan sehari-hari. Adapun penamaan bagian-bagian bambu menurut kearifan lokal masyarakat Desa Kebonsari adalah sebagai berikut ini.

Dhongklak
Dhongklak yang dimaksud oleh masyarakat Desa Kebonsari adalah akar bambu. Masyarakat biasanya menyebut akar tanaman dengan sebutan oyot. Namun, khusus untuk akar bambu masyarakat menyebutnya dengan sebutan dhongklak. Bambu merupakan tanaman yang tumbuhnya bergerombol sehingga akarnya yang berbentuk seperti serabut akan saling berkaitan bahkan menyatu. Biasanya setelah bambu ditebang dhongklak masih akan tersisa dan ditinggalkan begitu saja. Di Kebonsari dhongklak masih dibiarkan karena pemanfaatannya belum ditemukan.
Bongkot
Bongkot adalah bagian bambu yang berada di bawah dekat dengan akar. Menurut Mas Hasyim, warga Desa Kebonsari yang merupakan salah satu pemilik dan pengrajin bambu, bagian bongkot bambu dimulai dari bagian paling bawah sampai pertengahan batang bambu. Ukuran bongkot sama besar, setelah bongkot ke atas ukuran bambu baru akan semakin mengecil. Di Desa Kebonsari, bagian bongkot dimanfaatkan sebagai bahan baku membuat kerajinan seperti eblek, irik, amben, andha, dan sebagainya.
Pucuk
Pucuk adalah bagian ujung paling atas dari bambu. Pada bagian pucuk biasanya berukuran paling kecil dan bentuknya akan melengkung ke bawah. Bagian pucuk menjadi bagian yang paling banyak ditumbuhi daun. Di Desa Kebonsari pemanfaatan pucuk bambu sama dengan pemanfaatan bongkot karena sebenarnya masih merupakan kesatuan. Hanya saja ukuran pucuk yang cenderung kecil membuat penggunaannya harus disesuaikan. Namun, penggunaan pucuk dan bongkot bisa sama jika dibelah panjang misal dibuat menjadi iratan atau pagar.
Godhong Pring
Dalam bahasa jawa godhong berarti daun, dan pring berarti bambu. Jadi godhong pring hanyalah bahasa jawa dari daun bambu. Sebenarnya terdapat istilah dalam bahasa jawa untuk menyebut daun bambu, yaitu elarmanyura. Tetapi, di Desa Kebonsari istilah tersebut tidak digunakan karena masyarakat setempat menyebut daun bambu dengan sebutan godhong pring. Terkadang masyarakat Desa Kebonsari menyingkat dalam penyebutannya menjadi dhong pring. Di Desa Kebonsari godhong pring dimanfaatkan oleh seorang warganya yang bernama Mbak Tutik sebagai pembungkus ketupat dan kue lupis. Mbak Tutik menggunakan daun bambu sebagai pembungkus makanan pengganti janur dan daun pisang sebagai sebuah bentuk inovasi dan pemanfaatan daun bambu yang melimpah. Daun bambu yang digunakan oleh Mbak Tutik untuk membungkus makanan adalah godhong pring apus karena ukuran daunnya yang lebar dan teksturnya halus.
Carang
Carang adalah cabang kecil yang tumbuh pada batang bambu. Pada umumnya carang bambu tidak digunakan, kecuali carang bambu ampel. Di Desa Kebonsari yang merupakan sentra kerajinan bambu, carang bambu ampel biasanya digunakan sebagai bahan baku kerajinan tangan berupa bolpoin.
Pokol
Pokol adalah bagian dari gagang carang yang menempel pada batang bambu tepatnya pada garis melingkar yang menjadi sekat antara ruas bambu. Pokol tidak bisa dimanfaatkan menjadi sesuatu dan seringkali saat bambu ditebang pokol justru harus dipotong agar batang bambu menjadi rapi.
Ros
Pada batang bambu ros terlihat seperti garis yang melingkar pada batang bambu. Ros berfungsi sebagai pembatas antar ruas bambu sehingga pada sebatang bambu akan ada banyak ros. Saat memotong bambu biasanya bagian yang dipotong ada di atas atau di bawah ros bambu.
Tumpi
Tumpi adalah sekat yang berada di dalam batang bambu yang letaknya menyatu dengan ros. Jika ros adalah sekat yang melingkar pada batang bambu bagian luar sebagai pembatas antar ruas, tumpi adalah sekat bambu pada bagian dalam yang juga menjadi pembatas antar ruas. Tumpi biasanya rapat dan padat sehingga keras untuk dipotong, oleh karena itu saat memotong bambu masyarakat pasti menghindari memotong bambu pada bagian ros dan tumpi.
Clumpring
Clumpring adalah lapisan yang menyelimuti bambu saat bambu masih berupa tunas. Clumpring biasanya disebut pembungkus bambu. Saat bambu bertambah besar clumpring akan terlepas dengan sendirinya. Clumpring tidak bisa dimanfaatkan, biasanya masyarakat hanya membakarnya sebagai sampah.
Lugut
Lugut adalah bulu-bulu halus berukuran kecil dan berwarna hitam yang biasanya menempel pada clumpring. Umumnya, lugut banyak ditemukan pada bambu yang masih muda. Semakin besar ukuran bambu, maka lugut akan berkurang dengan sendirinya. Lugut bisa menempel pada kulit manusia dan menimbulkan rasa gatal dan sedikit nyeri. Menurut Mbah Rori, salah seorang pengrajin bambu, jika lugut secara tidak sengaja menempel pada kulit, cara paling ampuh untuk menghilangkannya adalah dengan menggosokkan kulit pada rambut. Masyarakat percaya gesekan kulit dengan rambut bisa melepaskan lugut. Hal tersebut belum terbukti secara ilmiah tapi sudah terbukti benar dan dilakukan oleh masyarakat Desa Kebonsari sejak dulu hingga saat ini.
Bung
Tunas bambu muda dalam bahasa indonesia disebut rebung, sedangkang dalam bahasa jawa disebut bung. Di Desa Kebonsari bung bisa dimanfaatkan sebagai olahan makanan, antara lain mie rebung, sayur rebung dengan kuah santan, dan isian lumpia. Rebung yang digunakan untuk olahan makanan biasanya adalah jenis bambu apus atau bambu jawa. Namun, masyarakat Desa Kebonsari jarang mengambil rebung untuk dijadikan olahan makanan karena mereka lebih memilih untuk membiarkannya tumbuh menjadi bambu terutama untuk rebung dari jenis bambu petung. Warga Desa Kebonsari tidak pernah mengolah rebung dari jenis bambu petung karena jenis bambu petung sangat sulit tumbuh sehingga apabila rebungnya dikonsumsi dikhawatirkan regenerasi bambu petung akan terhambat.
Kembang Pring
Pada ujung atas batang bambu yang melengkung terkadang terdapat daun yang bergerombol hingga menjutai ke bawah. Gerombolan daun bambu ini oleh masyarakat Desa Kebonsari disebut kembang pring atau dalam bahasa indonesia berarti bunga bambu. Menurut Mas Hasyim, kembang pring sebenarnya adalah suatu bentuk kelaian yang terjadi pada pertumbuhan daun bambu. Namun, pada masyarakat Desa Kebonsari berkembang sebuah mitos yang mengatakan bahwa jika seseorang yang di dalam keluarganya ada wanita yang sedang mengandung maka tidak diperbolehkan membakar kembang pring yang jatuh karena kelak bayi yang dikandung akan terlahir dengan rambut keriting. Sampai saat ini mitos tersebut masih dipercaya, sehingga kembang pring yang sudah jatuh dengan sendirinya biasanya hanya diletakkan di bawah bambu dan dibiarkan mengering dengan sendirinya.
Selain penamaan bagian-bagian bambu di atas masih ada penamaan untuk pohon dan kebun bambu. Di Desa Kebonsari segerombolan bambu yang tumbuh bersama biasa disebut dapuran. Sedangkan, kumpulan dari dapuran yang tumbuh bersama dalam sebuah lahan atau yang biasanya kita sebut dengan kebun bambu disebut dengan papringan.
Kearifan lokal seperti penamaan bagian-bagian bambu yang masih digunakan di Desa Kebonsari merupakan sebuah bentuk dari hasil pola pikir dan pengetahuan tradisional masyarakat. Pengetahuan tradisional tersebut tentunya didukung dengan kondisi lingkungan yang sesuai dengan adanya bambu yang melimpah. Masyarakat lain di daerah yang tidak mengenal bambu, maka penamaan bagian-bagian bambu tidak akan lengkap dan bervariasi seperti di Desa Kebonsari. Hal tersebut semakin menunjukkan bahwa sebuah kearifan lokal terbentuk tidak hanya oleh hasil pemikiran masyarakat tapi juga karena kondisi lingkungan yang mendukung sehingga menjadikan kearifan lokal tersebut suatu identitas atau keunikan suatu daerah.
Daftar Referensi
- Nasruddin. 2010. Kearifan Lokal Dalam Pappaseng Bugis. Sawerigading, Vol. 16 (2): 265-274
- Prayitno, Ujianto Singgih. 2013. Kontekstual kearifan lokal dalam Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta : Pusat Pengkajian, Pengolahan Data da Informasi Sekretariat Jenderal DPR RI.
- Catatan: Data diperoleh dari hasil perbincangan bersama dengan Fuad Hasyim selaku daya warga dan salah satu tokoh di Desa Kebonsari