QR Code

'Dongklak'

Dongklak adalah sebutan dalam bahasa Jawa (sering juga disebut bongkot pring) untuk bonggol akar bambu yang tersisa di dalam tanah setelah batang pohonnya ditebang. Secara botani, bagian ini merupakan sistem rimpang (rhizome) tebal yang berfungsi sebagai fondasi kuat sekaligus penyimpan cadangan makanan bagi tanaman bambu.

Meskipun awalnya sering dianggap sebagai limbah perkebunan yang mengotori lahan atau sekadar berakhir menjadi kayu bakar, dongklak kini memiliki nilai guna yang sangat tinggi di berbagai sektor. Akar bambu dan dongklak (bonggol akar yang tersisa setelah ditebang) adalah limbah alami yang kini populer dijadikan kerajinan tangan bernilai ekonomi tinggi, bahan baku pupuk organik, hingga dekorasi rumah

Dari Limbah Menjadi Berkah

Dari seonggok limbah yang terpendam, dongklak kini tampil memikat: menjadi penghias ruang tamu yang elegan sekaligus sahabat bagi kesuburan tanah pertanian.

Bagi sebagian orang, rumpun akar bambu yang telah ditebang adalah masalah—keras, sulit dibongkar, dan kerap menyumbang ruang di pekarangan. Namun, di tangan-tangan kreatif, dongklak bertransformasi menjadi kerajinan yang bernilai ekonomi tinggi. Tekstur seratnya yang eksotis, liat, serta bentuk guratan alaminya yang unik memberikan ruang kreatifitas bagi pengrajin ataupun para seniman. Dongklak kerap disulap menjadi kerajinan tangan bernilai seni tinggi, seperti patung hewan, dekorasi rumah, ulekan, hingga Kentongan Dongklak Akar Bambu yang banyak diproduksi di sentra kerajinan wilayah Yogyakarta dan Grobogan.

Tidak hanya estetis di permukaan, dongklak juga menyimpan kebaikan tersembunyi untuk bumi. Di dalam tanah, area perakaran (rhizosphere) bambu ini menjadi rumah bagi bakteri baik seperti Pseudomonas fluorescens. Bakteri ini dimanfaatkan oleh para petani sebagai bahan utama pembuatan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria)—sebuah formula pupuk hayati alami yang mampu memacu pertumbuhan tanaman sekaligus melindungi akar dari berbagai serangan penyakit.

Dongklak di Kebonsari

Masyarakat Desa Kebonsari Borobudur juga menyebut sekumpulan akar / oyot bambu dengan sebutan dhongklak. Biasanya rumpun bambu yang tumbuh bergerombol, akarnya yang berbentuk seperti serabut akan saling berkaitan bahkan menyatu. Biasanya setelah bambu ditebang dhongklak masih akan tersisa dan ditinggalkan begitu saja. Di Kebonsari dhongklak masih dibiarkan karena pemanfaatannya belum begitu maksimal dibandingkan bagian-bagian bambu lainnya.