Jembatan Stupa

Jembatan sering dimaknai sebagai penghubung antara dua sisi yang berseberangan. Di sini, jembatan bambu atau sesek dalam istilah jawa dimaknai sebagai tatanan potongan bambu yang dianyam sehingga menjadi lebih kuat, bermanfaat dan memberi pitulungan serta keselamatan bagi siapapun yang melewatinya. Jembatan stupa bambu ini menjadi doa dan simbol agar kita sebagai manusia dapat selalu memberi manfaat dan menjaga hubungan baiknya kepada sesama manusia, kepada alam yang ada di sekitarnya dan kepada Tuhan yang telah memberikan kesejahteraan.

Kesejahteraan dalam konsep pituturan memayu hayuning bawana bukanlah kekayaan materi atau kesenangan duniawi semata, namun yang dimaksud adalah bahwa dengan melestarikan (memayu) keindahan atau kebaikan (hayu-ning) alam semesta (bawana) maka dapat meraih “rahayu” atau keselamatan lahir dan batin, keselamatan dunia akhirat bagi semua makhluk, termasuk bagi manusia. Dan itulah yang dipahami sebagai tujuan hidup hakiki. Maka dalam upaya meraih tujuan kehidupan yang hakiki tersebut harus dipahami pula konsep pituturan sangkan paraning dumadi, sebagai pengingat muasal kita dan ke mana kita akan berpulang. Dengan demikian kesempatan hidup di dunia haruslah selalu terisi kebaikan kepada semua makhluk. Kebaikan tersebut menjadi nilai rahasia yang nantinya menjadi bekal penyejahtera kehidupan setelah kematian. Dan caranya adalah

memayu hayuning bawana yang dimulai dari diri sendiri,
dengan senantiasa menghidupkan “nur” atau cahaya yang disematkan oleh Tuhan
ke dalam setiap hati manusia,

dengan niat berbagi sebagai landasan, secara konsisten dan terus menerus “nur” tersebut harus ditebar demi kebaikan alam semesta. Berusaha menjadikan segala sesuatunya menjadi lebih baik, disertai niat tulus ikhlas hanya berharap ridho dari Sang Maha Welas Asih. Dengan demikian uripe dadi urup. Hidupnya tercerahkan dan mampu mencerahkan, serta menjadi manfaat bagi siapapun di sekitarnya. Cahaya keTuhanan tersebut yang disimbolkan melalui cahaya lampu yang paling terang di dalam instalasi seni stupa bambu ini hanya akan bercahaya dan semakin benderang ketika para pemilik hati menyadari keberadaannya. Namun sebaliknya, dia akan semakin redup, bahkan terjerembab dalam kegelapan yang gulita, ketika hatinya hanya diselimuti oleh nafsu keserakahan, kesombongan, iri dengki, kedurhakaan dan segala bentuk keangkara murkaan. Semoga kita semua dijauhkan dari sifat buruk dan selalu diberikan pitulungan dan keselamatan dari Sang Maha Pemilik Cahaya.

Sejalan dengan nasihat atau pituturan di atas, terdapat tujuh buah lampu melingkar di bawah instalasi stupa bambu.Tujuh buah lampu tersebut menjadi simbol “pitu” yang dalam falsafah jawa, pitu memiliki tujuh pemaknaan yang muaranya adalah mendapatkan pitulungan dari Tuhan Yang Maha Memberi Pertolongan agar kita semua dijauhkan dari sifat angkara murka dan senantiasa dilimpahi keberkahan. Tujuh hal tersebut yakni pitutur, pituwaspituhu, pituduhpitunganpituna, dan pitulunganPitutur artinya nasihat atau petuah bijak, pituduh artinya pencerahan, pituhu artinya ketaatan, pitungan artinya perhitungan, pituwas artinya pahala, pituna artinya kerugian, dan pitulungan artinya pertolongan.

Konsep pitu dalam falsafah jawa ini masih menjadi pedoman kehidupan masyarakat di Kawasan Borobudur sampai sekarang. Pituturan yang dimaknai dengan memberi nasehat kebaikan atau niat gawe pepadhang tersebut ditunjukkan atau diekspresikan oleh masyarakat dalam berbagai bentuk sebagai upaya untuk mengingatkan kepada nasehat kematian, dan dengan maksud yang senada yaitu mengingatkan manusia agar selalu menjaga hubungan baik kepada sesama, kepada alam dan kepada Tuhannya selama diberi nafas kehidupan di dunia ini. Berbagai ekspresi pituturan tersebut secara kultural disampaikan melalui sesajian pangan spiritual, kesenian rakyat, syair dan bentuk-bentuk tradisi lainnya, yang pada akhirnya berkembang ke dalam bentuk lain yang masuk kategori kekinian atau kontemporer, namun tidak terlepas dari pemaknaan yang terkait dengan sangkan paraning dumadi.

Stupa bambu adalah gambaran keberadaan Candi Borobudur yang selama ini telah menjadi magnet bagi masyarakat dunia untuk mengunjunginya dikarenakan megahnya arsitektur bangunan dan kedalaman makna dari ajaran yang terpahat di dalam reliefnya. Keberadaan peninggalan cagar budaya tersebut memberi peluang manfaat kepada masyarakat yang ada di sekitarnya, yaitu bagi penduduk yang bertempat tinggal di 20 desa di kecamatan Borobudur untuk meningkatkan kesejahteraannya. Namun hal itu itu akan terjadi tatkala masyarakat dari 20 desa turut menopang, keberadaan Candi Borobudur dengan memajukan kebudayaan desa dan nilai-nilai kehidupan pedesaan yang dimilikinya seperti yang disimbolkan dengan 20 tiang bambu yang menyangga stupa bambu di atasnya. Agar menjadi lebih baik, semua harus disangga bebarengan, saiyeg saeka kapti, saiyeg saeka praya. Apabila kelompok-kelompok masyarakat bersatu padu dan menggerakkan dan mengemas potensi alam dan budaya yang ada di desanya dengan prinsip pembangunan berkelanjutan, maka tak ayal, harapan UNESCO dengan penetapan World Heritage Site of Borobudur akan terwujud, yaitu semakin kuatnya nilai-nilai pembelajaran kehidupan berbasis budaya di Kawasan Borobudur. Kawasan Borobudur akan semakin menarik. Daya tariknya akan semakin kuat, dan bisa jadi akan semakin banyak orang berkunjung untuk belajar nilai-nilai kehidupan yang berisi ajaran kebaikan, bukan hanya ke candi, namun juga ke desa-desa di sekitar Candi Borobudur.

Ulasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *