Lompat ke konten
Home » Nyunggi Suket

Nyunggi Suket

    (Narasi oleh Alia Noviardita)

    Narasi

    Sore itu saat saya sedang berjalan-jalan keliling desa untuk mencari cerita-cerita budaya desa, mata saya tertuju pada seseorang yang saya kenal yaitu Bapak Suwaji, seseorang yang berumur sekitar 60 tahun dari Dusun Bigaran, sedang membawa sesuatu di atas kepalanya. Saat saya tanyakan apa yang sedang dibawa di atas kepala itu, ternyata adalah suket atau rumput yang digunakan untuk makanan hewan ternaknya. Menurut Pak Suwaji, apa yang beliau lakukan ini disebut nyunggi suket, nyunggi suket pun dilakukan dengan dua cara yang berbeda, pertama adalah membongkok suket kemudian disunggi, yang kedua adalah dengan menggunakan keranjang.

    Dibongkok

    Untuk cara nyunggi suket yang dibongkok, setelah ngaret mengumpulkan rumput menjadi satu tanpa wadah apapun dan dipasang tali melingkari rumput tersebut atau disebut bongkok. Untuk cara kedua yaitu menggunakan keranjang, biasanya cara ini digunakan untuk rumput-rumput yang halus sehingga tidak bisa dilakukan dengan cara dibongkok. Keranjang yang digunakan biasanya yang terbuat dari bambu.

    Keranjang Bambu

    Ada cerita menarik menurut Bapak Suwaji, bahwa dahulu 60 persen warga Bigaran menggunakan keranjang saat ngaret dan nyunggi suket, namun kini sudah jarang orang-orang menggunakan keranjang karena tidak mau membuat keranjang. Karena biasanya keranjang yang digunakan di untuk nyunggi merupakan keranjang buatan sendiri. Dulu jika  menggunakan keranjang, rumput bisa ditumpuk sampai tinggi kemudian ditali.

     

    Gambar

    Relasi Budaya

    Narasumber

    • Mbah Suwaji, 60 tahun, sesepuh desa Bigaran ; Dahulu sebagian besar warga Bigaran menggunakan keranjang bambu yang dibuat sendiri untuk menyunggi suket.

    Sumber Lain

    Dari Kanal

    Ulasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *