Pengawetan Bambu

Bambu memiliki keawetan yang sangat rendah, mudah diserang mikro organisme dan serangga sehingga untuk penggunaan jangka panjang orang tidak memilih bambu.

Oleh karenanya pengawetan bambu baik secara konvensional atau kimiawi perlu dilakukan untuk meningkatkan nilai pakai bambu sehingga mampu dipakai untuk kurun waktu yang lama (membuat balok bambu untuk tiang bangunan dan kuda kuda, papan laminasi , papan panel dan atap bambu)

Tanpa pengawetan di tempat terbuka bambu hanya dapat digunakan 1-3 tahun, apabila dibawah naungan/terlindung dapat mencapai 4-7 tahun dan pada kondisi ideal dapat digunakan 10-15 tahun. Namun apabila dengan pengawetan, bambu dapat digunakan lebih dari 15 tahun (Liese , 1980 dalam Morisco 2005).

Dalam pengetahuan tradisional, masyarakat sudah lama mengenal cara pengawetan alami. Salah satunya dengan memilih waktu panen tertentu, biasanya ketika kadar air dalam batang sedang rendah. Di banyak daerah Jawa, bambu ditebang pada musim kemarau atau pada fase bulan tertentu agar kandungan air dan pati lebih sedikit.

Cara lain yang cukup dikenal adalah perendaman bambu di air selama beberapa minggu hingga beberapa bulan. Proses ini membantu meluruhkan zat gula dan pati di dalam batang sehingga bambu menjadi kurang disukai serangga. Setelah direndam, bambu biasanya dijemur hingga benar-benar kering sebelum digunakan.

Dalam teknik modern, pengawetan juga dapat dilakukan dengan larutan boraks dan asam borat, yang dimasukkan ke dalam jaringan bambu melalui perendaman atau metode alir. Teknik ini banyak digunakan karena cukup efektif menjaga bambu tetap awet tanpa mengubah bentuk dan kekuatannya secara berarti.