perubahan sekecil suhu udara, kelembapan, tupan angin, maupun kemunculan bunyi-bunyian serangga, mereka akan menandainya sebagai peralihan mangsa. Ilmu tentang pranata mangsa ini tidak hanya diyakini sebagai mitos saja, melainkan sebagai pengetahuan yang sudah dibuktikan selama ratusan tahun. Mas Solikan sendiri mengaku sudah pernah mencoba membuktikannya sendiri.
Nyaris seluruh jenis pertanian di Giritengah mengacu pada hitungan pranata mangsa, kecuali tanaman yang memang bisa ditanam kapan pun. Beberapa di antara hasil tani yang masih sangat bergantung pada hitungan mangsa adalah cabai, padi. pala pendem dan tembakau.
“Kalau musim cabai, begitu ndak mengikuti aturan tanam pranata mangsa, hasil panen mesti ra dadi. wes kebukti, akeh sing ngalami. Pertumbuhane wes mesti kerdil” (Mas Solikan)
Proses pembelajaran pranata mangsa diajarkan turun-temurun dari sesepuh/leluhur kepada generasi penerusnya melalui praktik secara langsung. Misalnya, sedari kecil, anak para petani sudah diajak ke kebun/sawah untuk belajar secara langsung mengenai proses penanaman, perawatan hingga pemanenan tanaman. Selain mengajarkan proses menanam hingga panen tanaman, para orang tua juga mengajarkan tentang waktu penanaman yang berlandaskan sistem pranata mangsa.
Kalender pranata mangsa terdiri dari 12 musim atau yang dikenal dengan mangsa dalam bahasa Jawa. Musim pertama dalam pranata mangsa adalah mangso Kosa. Mangsa kasa herumur 41 hari, dimulai dari tanggal 22 Juni hingga tanggal 2 Agustus. Musim ini ditandai dengan datangnya angin dari timur laut ke barat daya dan malam yang mulai dingin. Pada musim ini, petani biasanya mulai menanam tembakau dan memanen koro serta telo (singkong).
Musim kedua disebut dengan mangsa karo yang berumur 23 hari, dimulai dari tangga 2 Agustus hingga 25 Agustus. Musim ini ditandai dengan suhu di malam hari yang lebih dingin dan angin yang tambah kencang. Saat siang hari pada musim ini suhu juga mulai panas.
Musim ketiga atau mangsa katiga berusia 24 hari yang dimulai dari tanggal 25 Agustus hingga 18 September. Musim ini ditandai dengan suhu pada malam hari yang sangat dingin dan siang hari yang sangat panas, sehingga sampai menga-kibatkan tanah “mlethek-mlethek” atau retak-retak dan pring atau bambu pecah karena tidak kuat menahan suhu panas tersebut.
Mangsa katiga adalah musim yang sangat cocok untuk pertumbuhan tanaman tembakau karena tanaman ini memerlukan udara dingin dan sedikit air. Pada musim ini, daun terbawah tembakau sudah mulai diambil yang mana adalah tanda dimulainya panen. Pada musim ini, lahan tidak ditanami karena terlalu panas; Adapun tanaman palawija mulai dapat dipanen.
Musim berikutnya yaitu mangsa kapat atau musim keempat. Musim ini dimulai pada tanggal 18 September hingga 12 Oktober dan berumur 25 har Pada musim ini, tanah yang pada musim sebelumnya retak karena terlalu panas sudah mulai dingin. Daun pertama aada umbi-umbian seperti suweg, uwi, gembilijuga mulai tumbuh.
Mangsa kalima atau musim kelima dimulai pada 13 Oktober hingga 8 November dan berumur 27 hari. Musim ini ditandai dengan bleyer-bleyer atau petir di langit. Musim ini juga ditandai dengan mulai terganggunya frekuensi pada radio SM atau cawang yang sering didengarkan petani Giritengah. Beberapa tanda tersebut yang biasanya terjadi pada akhir mangsa kalima menandakan bahwa akan datangnya musim hujan yang cocok untuk menanam. Pada musim ini, para petani biasanya mulai menyiapkan rabuk atau pupuk kandang yang digunakan untuk menanam dan mulai menggarap sawah.
Musim selanjutnya yaitu mangsa kanem atau musim keenam yang dimulai pada tanggal 9 November hingga 21 Desember, berumur 43 hari. Pada musim ini, suhu mulai panas sedangkan angin mulai hilang. Musim ini juga ditandai dengan munculnya ‘lesus’ atau semacam angin puting beliung berukuran kecil yang sering mengangkat larahan atau dedaunan ke latar yang disebut dengan ‘ngampat-ngampat. menandakan angin mulai turun. Pada musim ini, biasanya pohon mulai berbuah dan menjadi tanda dimulainya musim lebuh atau nandur
Mangsa kapitu atau musim ketujuh berumur 43 hari yang dimulai dari tanggal 22 Desember hingga 2 Februari. Pada musim ini, hujan sering turun sehingga biasanya banyak orang yang sakit. Musim ini juga sering disebut mangsat “open-open”, yaitu musim merawat tanaman cabai vang sedang membutuhkan banyak nutrisi dan perawatan.
Musim kedelapan atau mangsa kawalu berumur 26 hari yang dimulai pada tanggal 3 Februari hingga 28 Februari. Hujan masih turun pada musim ini, namun tidak sesering pada musim sebelumnya (mangsa kapitu). Pada musim ini, rebung atau tunas bambu mulai tumbuh. Tanaman padi juga mulai “mrotok” atau muncul bunga. Petani biasanya sudah mulai memanen cabai.
Mangsa kasanga atau musim ke sembilan berumur 25 hari yang dimulai pada tanggal 1 Maret hingga 25 Maret. Pada musim ini, hujan bergantian dengan panas sehari-harinya. Hal ini ter-kadang membuat tanaman cabal “pateken” atau mengakibatkan jamur pada cabai. Maka dari itu, biasanya petani harus selesai memanen cabai pada musim sebelumnya (mangsa kawolu) karena jika panen dilakukan pada mangsa kasanga kebanyakan cabai sudah pateken dan membuat harga cabai turun drastis.
Mangsa selanjutnya yaitu mangsa kasepuluh atau kasadasa. Musim ini berumur 24 hari yang dimulai pada 26 Maret hingga 18 April. Pada musim ini, mulai jarang turun hujan. Para petani biasanya mulai memanen padi pada musim ini.
Musim kesebelas atau mangsa dhesta berumur 23 hari yang dimulai pada tanggal 19 April hingga 11 Mei. Pada musim ini, hujan hanya turun sekali dalam satu musim dan para petani meneruskan panen padi.
Mangsa terakhir yaitu mangsa sado atau musim kedua belas. Mangsa seda berumur 41 hari yang dimulai pada tanggal 12 Mei hingga 21 Juni. Pada musim ini, sudah masuk musim kemarau sehingga sudah tidak turun hujan. Lahan juga sudah kosong karena sudah selesai musim panen musim panen.
Perubahan ikllm yang tidak menentu mungkin menjadi salah satu masalah bagi para petani. Namun, hitungan pranata mangsa masih tetap tanpa ada perubahan. Hanya, mungkin ada sedlkit penyesuaian yang harus dilakukan petani dalam menyelaraskan antara hitungan pranata mangsa dengan iklim/cuaca yang sedang dihadapi.
Pak Takim berpesan, suatu saat nanti, ilmu pengetahuan tradisional seperti pranata mangsa mungkin akan banyak dicari namun akan sangat sulit menemukan orang-orang yang masih menggunakan atau mempraktikkan ilmu tersebut.
Mengutip kalimat dari Mas Solikan, pranata mangsa itu sendiri adalah ilmu turun-temurun, ilmu titen-niteni dengan alam, yang pastinya didasari atas pengalaman bertahun-tahun leluhur dan bukan asal-asalan dikarang, yang belakangan semakin terbukti secara ilmiah akurasinya. Maka darl ltu, seperti yang dituturkan oleh Pak Takim dan Mas Solikan, Bahwasannya pelestarian, perawatan, dan perlindungan ilmu pengetahuan tradisional seperti halnya pranata mangsa menjadi sangat penting.
Hal lainnya, dalam sistem kebudayaan masyarakat Desa Glritengah juga masih kental dengan aroma seni, adat lstiadat, tradiso dan teknologi tradisionalnya. Jika mengacu pada objek pemajuan kebudayaan, mungkln 10 objek pemajuan kebudayaan ada semuanya di Desa Giritengah, mulai dari bahasa, desa ini mengangkat bahasa Jawa sebagal bahasa masyarakat yang digunakan sehari-hari dan dalam setiap kegiatan kemasyarakatan.
Dalam adat istiadat, masyarakat Desa Giritengah masih melaksanakan kegiatan adat istiadat yang berhubungan dengan bulan Jawa atau Islam, seperti peringatan bulan Sura, nyadran pada bulan Ruwah atau disebut pula ruwahan. Sedangkan, ritus yang sampai kini masih lestari antara lain miwiti cengkeh, tedak siten, ngapati, mitoni dan sebagainya.