Kesenian Gatholoco: Angudari Lakuning Mangsa

Pengantar Sarasehan Kesenian Gatholoco

ANGUDARI LAKUNING MANGSA

Mangsa kasa (2x) tanggale Senen kliwon

Etangane (2x) tigang pecak tigang pecak

Ngasare (2x) sepuluh pecak sepuluh pecak

Umure (2x) patang puluh (2x) siji dina

 

Bagi sebagian orang, bait tersebut mungkin terdengar seperti tembang biasa. Namun bagi masyarakat yang mewarisinya, bait tersebut menyimpan pengetahuan tentang waktu, musim, dan cara manusia memahami perubahan alam. Melalui syair semacam inilah masyarakat Jawa mengingat siklus musim dan mewariskannya dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Jauh sebelum hadirnya aplikasi kalender, prakiraan cuaca, atau media penyimpanan digital, masyarakat Jawa telah mengembangkan cara menyimpan pengetahuan tentang musim di dalam ingatan kolektif. Salah satu caranya adalah melalui syair yang diwariskan dalam kesenian Gatholoco.

Di tengah derasnya arus perubahan zaman, masyarakat sering kali disibukkan oleh upaya mencari pengetahuan baru. Namun tanpa disadari, di sekitar kita masih tersimpan pengetahuan lama yang belum sepenuhnya dipahami, bahkan perlahan mulai terlupakan.

Pengetahuan tersebut hidup dalam cerita, pitutur, tembang, tradisi lisan, dan berbagai kesenian rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satunya adalah kesenian Gatholoco yang hingga hari ini masih dapat dijumpai di sejumlah desa di wilayah Magelang, Temanggung dan Wonosobo.

Bagi sebagian orang, Gatholoco mungkin hanya dikenal sebagai kesenian rakyat yang memadukan tembang, tari, humor, dan pitutur. Namun bagi para pelaku dan masyarakat yang mewarisinya, Gatholoco sesungguhnya merupakan ruang penyimpanan pengetahuan yang sangat kaya. Di dalam syair-syairnya tersimpan berbagai pandangan hidup masyarakat mengenai musim, pertanian, hubungan manusia dengan alam, pendidikan karakter, tata kehidupan sosial, hingga hubungan manusia dengan Sang Pencipta.

Pengetahuan tersebut lahir dari pengalaman panjang masyarakat desa dalam mengamati lingkungan tempat mereka hidup. Melalui pengamatan terhadap arah angin, perubahan cuaca, perilaku hewan, pertumbuhan tanaman, hingga siklus musim, masyarakat membangun pengetahuan yang kemudian diwariskan melalui syair-syair yang mudah diingat dan dinyanyikan bersama.

Salah satu pengetahuan yang menarik untuk dipelajari kembali adalah pranatamangsa, sistem penanggalan musim yang berkembang dalam masyarakat Jawa agraris. Dalam pranatamangsa, musim tidak dipahami sekadar sebagai perubahan cuaca, melainkan sebagai petunjuk kehidupan. Di dalamnya terdapat pengetahuan tentang waktu bercocok tanam, pengelolaan sumber daya, kesiapsiagaan menghadapi perubahan alam, hingga nilai-nilai yang membentuk sikap hidup masyarakat.

Melalui syair-syair lagu Gatholoco, pengetahuan tersebut diwariskan secara turun-temurun.

Menariknya, syair dalam kesenian Gatholoco tidak hanya menyebut Mangsa Kasa. Melalui tembang tersebut, masyarakat mengingat seluruh dua belas mangsa beserta hari, hitungan, dan lamanya masing-masing musim. Dengan kata lain, syair yang dinyanyikan para pelaku Gatholoco sesungguhnya berfungsi sebagai arsip pengetahuan yang hidup. Pengetahuan yang tidak disimpan di rak perpustakaan, melainkan di dalam ingatan manusia dan diwariskan melalui perjumpaan antargenerasi. 

Mangsa Kasa

Mangsa kasa (2x) tanggale Senen kliwon

Etangane (2x) tigang pecak tigang pecak

Ngasare (2x) sepuluh pecak sepuluh pecak

Umure (2x) patang puluh (2x) siji dina

Mangsa karo (2x) tanggale Senen Paing

Etangane (2x) ana rong pecak ana rong pecak

Ngasare (2x) sangang pecak (2x)

Umure (2x) telu likur dina telu likur dina

Ketelu (2x) tanggale Rebo Kliwon

Etangane (2x) pecak sewiji pecak sewiji

Ngasare (2x) wolung pecak wolung pecak

Umure (2x) patlikur dina patlikur dina

Mangsa kapat (2x) tanggale Jemuah Pon

Etangane (2x) wus katumbuk wus katumbuk

Ngasare (2x) pecak sewiji pecak sewiji

Umure (2x) selawe dina selawe dina

 

Mangsa kalima (2x) tanggale Senin Paing

Etangane (2x) pecak sewiji pecak sewiji

Ngasare (2x) ana wulung sewiji wulung sewiji

Umure (2x) pitulikur dina pitulikur dina

 

Mangsa kanem (2x) tanggale Jemuah Paing

Etangane (2x) ana rong pecak ana rong pecak

Ngasare (2x) ana sangang pecak ana sangang pecak

Umure (2x) ana patang puluh dina patang puluh dina

Kapitu (2x) tanggale Kemis Pon

Etangane (2x) pecak sewiji pecak sewiji

Ngasare (2x) ana wolung pecak wolung pecak

Umure (2x) patang puluh telu dina (2x)

Kewolu (2x) tanggale Rebo Wage

Etangane (2x) wus katumbuk wus katumbuk

Ngasare (2x) ana pitung pecak pitung pecak

Umure (2x) selawe dina selawe dina

Kesanga (2x) tanggale Ahad Wage

Etangane (2x) pecak sewiji pecak sewiji

Ngasare (2x) ana wolung pecak ana wolung pecak

Umure (2x) nemlikur dina nemlikur dina

Kasadasa (2x) tanggale Rebo Pon

Etangane (2x) ana rong pecak ana rong pecak

Ngasare (2x) ana sangang pecak sangang pecak

Umure (2x) patlikur dina patlikur dina

Mangsa dhesta (2x) tanggale Senin Paing

Etangane (2x) ana tigang pecak tigang pecak

Ngasare (2x) sepuluh pecak sepuluh pecak

Umure (2x) ana telulikur dina telulikur dina

Mangsa sadha (2x) tanggale Rebo Wage

Etangane (2x) tigang pecak tigang pecak

Ngasare (2x) sepuluh pecak sepuluh pecak

Umure (2x) patang puluh siji dina (2x)

Di sinilah letak keistimewaan kesenian Gatholoco.

Ia bukan sekadar kesenian. Ia adalah perpustakaan lisan. Ia adalah ruang penyimpanan memori kolektif masyarakat desa. Ia adalah cara masyarakat mengabadikan pengetahuan sebelum hadirnya buku, arsip digital, maupun teknologi informasi seperti yang kita kenal hari ini.

Sayangnya, proses pewarisan tersebut kini menghadapi berbagai tantangan. Perubahan pola hidup, perkembangan teknologi, perubahan sistem pendidikan, urbanisasi, serta perubahan iklim telah mengubah hubungan masyarakat dengan alam. Banyak generasi muda yang tidak lagi mengenal pranatamangsa. Banyak syair masih dinyanyikan, tetapi maknanya mulai terlupakan. Banyak pelaku kesenian yang masih setia menjaga tradisi, tetapi semakin sedikit ruang yang memungkinkan pengetahuan di balik syair-syair tersebut dipelajari secara mendalam.

Kondisi inilah yang melahirkan kegelisahan.

Yang terancam hilang sesungguhnya bukan hanya sebuah bentuk pertunjukan seni. Yang terancam hilang adalah pengetahuan yang tersimpan di dalamnya. Ketika seorang sesepuh berpulang tanpa sempat mewariskan pemahamannya mengenai makna syair, sesungguhnya yang ikut hilang adalah pengalaman panjang masyarakat dalam membaca alam dan memahami kehidupan.

Karena itulah pelestarian kebudayaan tidak cukup hanya menjaga bentuk keseniannya. Yang tidak kalah penting adalah mendokumentasikan, mengkaji, dan menghidupkan kembali pengetahuan yang terkandung di dalamnya.

Semangat tersebut menjadi landasan penyelenggaraan Sarasehan Kesenian Gatholoco: Angudari Lakuning Mangsa yang berlangsung pada 10–12 Juni 2026 di Limasan Ringin Somo Puji Asih, Dusun Sangen, Desa Candirejo, Kecamatan Borobudur.

Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan dan diskusi antar pelaku Gatholoco untuk mengurai kembali pengetahuan yang tersimpan dalam syair-syair yang mereka warisi.

Sedikitnya lima kelompok yang masih aktif saat ini terlibat dalam kegiatan tersebut, yaitu Gatholoco Sekar Krido Budoyo dari Desa Majaksingi, Gatholoco Laras Madyo dari Desa Giripurno, Gatholoco Candirejo dari Desa Candirejo, Gatholoco Madyo Pitutur Puspa Bawana dari Desa Kalisalak, serta Gatholoco Madyo Pitutur dari Desa Giritengah.

Kelima kelompok tersebut menjadi titik awal untuk memahami kembali kekayaan pengetahuan yang tersimpan dalam tradisi Gatholoco. Namun para pelaku meyakini bahwa masih terdapat kelompok-kelompok lain yang tersebar di berbagai wilayah Magelang dan Temanggung yang belum seluruhnya terpetakan dan terdokumentasikan dengan baik.

Karena itu, sarasehan ini tidak dimaksudkan sebagai titik akhir, melainkan langkah awal. Harapannya, pertemuan ini dapat membuka jalan bagi upaya pemetaan yang lebih luas terhadap kelompok-kelompok Gatholoco yang masih hidup, sekaligus mendokumentasikan syair, pitutur, dan pengetahuan yang mereka wariskan.

Kegiatan yang dilaksanakan oleh Perkumpulan Eksotika Desa Lestari ini didukung sepenuhnya oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X Kementerian Kebudayaan melalui Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026. Dukungan tersebut menunjukkan pentingnya upaya pelindungan dan pemajuan kebudayaan yang tidak hanya berfokus pada pelestarian bentuk budaya, tetapi juga pada pengetahuan yang hidup di dalamnya.

Tema “Angudari Lakuning Mangsa” sendiri mengandung makna yang mendalam. Angudari berarti mengurai atau membuka kembali sesuatu yang selama ini tersimpan. Sementara lakuning mangsa berarti perjalanan musim. Namun lebih jauh dari itu, tema ini mengajak kita mengurai kembali perjalanan pengetahuan yang diwariskan oleh para leluhur melalui pengalaman hidup dan kedekatan mereka dengan alam.

Di tengah perubahan iklim, perubahan sosial, dan perubahan teknologi yang terus berlangsung, pengetahuan lokal semacam ini menjadi semakin relevan untuk dipelajari kembali. Bukan karena semua jawabannya ada di masa lalu, melainkan karena para leluhur telah mewariskan cara berpikir yang membantu manusia memahami perubahan dan beradaptasi terhadapnya.

Barangkali yang sedang dicari melalui Sarasehan Kesenian Gatholoco bukan hanya kelompok-kelompok keseniannya. Yang sedang dicari adalah jejak-jejak pengetahuan yang masih hidup di tengah masyarakat sebelum ia hilang bersama waktu.

Sebab ketika sebuah syair berhenti dipahami, yang hilang bukan hanya lagu. Yang ikut menghilang adalah pengalaman panjang masyarakat dalam membaca musim, memahami alam, dan menata kehidupan.

Karena itulah angudari lakuning mangsa pada akhirnya bukan hanya tentang mengurai perjalanan musim. Melainkan mengurai kembali pengetahuan, kebijaksanaan, dan pengalaman hidup yang diwariskan para leluhur melalui syair, pitutur, dan perjumpaan antargenerasi.

“Mangsa kuwi dudu mung pratandha wektu, ananging sejatine guru lan pitutur luhur.”

Musim itu bukan sekadar penanda waktu, namun sejatinya adalah guru dan nasehat kehidupan.

Borobudur, 10 Juni 2026

Salam budaya,

Panji Kusumah,

Eksotika Desa

 

Ulasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel /Konten Terkait

logo 1 dekade eksotikadesa
Gotong royong demi Desa indah lestari
QR Code