Lompat ke konten
Home » Memaknai Tembang Mijil

Memaknai Tembang Mijil

    (Oleh Zurdhan Ageng Pamuji dan Khoirul Fai)

    Narasi

    Tembang Mijil merupakan salah satu tembang macapat, apabila dilihat dari urutannya Mijil merupakan tembang yang ke dua setelah tembang Maskumambang. Menurut Pak Rowiyanto (40), Mbah Prayit (68), dan juga Mbah Mugi (63), tembang macapat merupakan gambaran perjalanan  manusia dari lahir sampai meninggal dunia. Tembang Mijil artinya sebuah kelahiran dari dalam perut ibundanya. Belum terlihat jelas jenis kelaminnya laki-laki atau perempuan. Penafsiran lain ada yang mengartikan sebagai lahirnya atau munculnya keinginan untuk menjadi baik. Berikut contoh tembang mijil

    Tembang Mijil

    1)

    Wulang estri kang wus palakrami
    Lamun pinitados
    Amengkoni mring balewismane
    Among putra marusentanabdi
    Den angati-ati
    Ing sadurungipun

    Artinya:
    Nasihat untuk wanita yang sudah berumah tangga
    Hendaknya dapat dipercaya
    Melindungi rumah tangganya
    Mengasuh anak, maru keluarga dan abdi
    Selalu berhati-hati
    Sebelum melakukan sesuatu.

    2) 

    Madya ratri kentarnya mangikis,
    Sira Sang lir sinom,
    Saking taman miyos butulane,
    Datan wonten cethine udani,
    Lampahe lestari,
    Wus ngambah marga Gung.

    Artinya:
    Tengah malam suasana mencekam,
    Dia Sang Pemuda,
    Dari taman keluar pintu belakang,
    Tidak ada yang menanyai,
    Perjalanannya selamat,
    Sudah sampai jalan besar.

     

    Adapun kaitannya dengan kelahiran bayi dan juga rentetan perlakuan bayi selama masih di kandungan berikut percakapan antara Pak Rowiyanto, Mbah Prayit dan juga Mbah Mugi.

    Penjelasan urutan pertama perjalanan bayi dari kandungan dimulai dari peniupan ruh  janin oleh Sang Maha Kuasa, tepat di usia 4 bulan janin atau yang sering kami sebut dengan istilah ngapati.

    • Ngapati

    Diartikan adat kami di Desa Sambeng sebagai wujud syukur dan rasa penuh dengan pengharapan karena kandungan usia 4 bulan ditiupkan ruh oleh malaikat atas izin Sang Maha Kuasa. Biasanya mengadakan ngaji surat-surat Al-Quran dan tumpengan yang dipimpin oleh modin atau kaum atau ulama desa.

    • Mitoni/tingkepan

    Salah satu tradisi daur kehidupaan dalam slametan kehamilan di usia kandungan 7 bulan yang bertujuan mendoakan ibu dan juga bayi yang dikandung agar terlahir dengan lancar normal dan dijauhkan dari segala kekurangan juga berbagai marabahaya, biasanya ngaji 7 surat di dalam Al-Quran (Al Maryam, surat Yusuf, surat LukmAn, Sajadah, Waqiah, Ar-Rahman, Al Muhammad bisa ditambah surat yang lain tergantung kaum/ulama yang memimpin.

    Bersamaan dengan prosesi di atas, masyarakat Sambeng juga mewujudkannya dengan tumpengan 7 bulan yang terdiri dari tumpeng seperti pada umumnya, ditambahkan jenang merah, jenang putih, jenang baning, jenang putih ditimpa jenang merah, jenang putih disilang jenang merah, jenang putih separuh piring dan juga jenang merah separu piring dijadikan di satu piring, dan baru-baru yaitu jenang putih ditaburi parutan kelapa.

    Kemudian ada ingkung rosul yaitu ingkung ditambah ikan asin, sambel goreng, kentang goreng,  urapan 7 macam sayuran, telur jawa 7 butir. Lalu ada aneka jajan pasar, kembang setaman, dan air sumber yang ditaruh di dalam kendi.

    Semuanya didoakan, kemudian kembang dibuat mandi sang ibu hamil dengan air kendi tersebut ditambah dengan air yang ada

    • Mijil/lahiran

    Mijil/lahiran/brokohan, brokohan berasal dari kata barokah wujud syukur orang tua atas kelahiran bayinya, tradisi brokohan sebagai pengingat dari semua kebaikan yang pernah diterima.

    Inti dari brokohan memendam ari-ari yang sudah dipotong dan kemudian ari-ari dimasukkan ke dalam kendi dan dipendam di dekat rumah. Biasanya jika anak laki-laki di sebelah kanan rumah, kalau perempuan di sebelah kiri rumah. Dipagari dengan anyaman bambu dan diberi penerangan karena ari-ari sebagai pengirim oksigen/teman si jabang bayi yang harus dirawat dan jaga. Ditambah genduren/sedekahan semampu keluarga

    • Makisi/puput puser

    Biasa dibarengi dengan aqiqahan,dan juga pencukuran rambut bayi

    • Selapan

    Usia bayi umur 35 hari biasanya diadakan genduren slametan, atas rasa syukur dari sang ibu dan juga bayi kepada tuhan yang maha esa.

     

    Gambar

    Narasumber

    Relasi Budaya

    Sumber Lain

    Dari Kanal

    Ulasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *