Buku “Cerite Budaye Bahari Kampong Batu Itam” ini merangkum kehidupan kampung pesisir di Desa Batu Itam Kecamatan Sijuk Kabupaten Belitung Provinsi Bangka Belitung. Buku ini menggambarkan bagaimana kehidupan nelayan di pesisir tidak melulu mencari ikan, tetapi juga ruang hidup yang membentuk identitas, pengetahuan, tradisi, dan peradaban manusia yang layak untuk dirawat dan diwariskan.
Buku mampu mendokumentasikan secara komprehensif hasil pemetaan partisipatif yang merangkum kekayaan lanskap, tradisi, dan ekosistem budaya bahari di Desa Batu Itam, Belitung.
Secara garis besar, buku terbagi beberapa bagian utama:
-
Mengenal Lanskap Budaya Desa Batu Itam: Membahas selayang pandang geografis desa, asal-usul nama “Batu Itam” yang lekat dengan cerita tutur dan mitos lokal, interaksi masyarakat dengan Selat Gaspar, komposisi etnis (Melayu, Tionghoa, Jawa, Sunda, dll.), arsitektur rumah tradisional panggung hingga rumah tembok, pakaian adat beserta makna filosofisnya, tradisi sosial (begawe dan ngelakar), kesenian tradisional (seperti musik keroncong, hadrah, dan sanggar tari), pengobatan tradisional (pucuk kayu, pijat/beurut, dan bejampik), kerajinan tikar lais, permainan tradisional anak-anak, hingga ragam kuliner khas (seperti gangan dan makan bedulang) serta ritus adat (mulai dari daur hidup hingga ritus tahunan dan tolak bala).
-
Dunia Nelayan Batu Itam: Mengupas tuntas keanekaragaman hayati darat, sungai, hutan bakau, hingga laut. Bagian ini juga memuat pengetahuan lokal nelayan mengenai kalender musim berdasarkan angin dan rasi bintang, alat tangkap tradisional seperti siro (jeroan ikan raksasa), teknik tangkap (nyulo, mukat, nimong, ngetong, ngeremis, dan memancing), industri pengolahan ikan asin, galangan kapal tradisional di Tanjung Kubu, jenis-jenis perahu, pangkalan nelayan, hingga ritual beselamat laut.
-
Pengembangan Ekonomi Kreatif dan Wisata Edukasi Pedesaan: Fokus pada upaya pelestarian dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, salah satunya melalui industri keramik lokal KIBIT-BICA Ceramic yang mengangkat kembali sejarah maritim dunia melalui replika keramik Belitung Shipwreck (Muatan Kapal Tenggelam Dinasti Tang abad ke-9).
Beberapa keunikan penyajian buku ini ;
-
Pendekatan Partisipatif: Buku ini tidak ditulis dari sudut pandang pengamat luar semata, melainkan melibatkan langsung masyarakat lokal (nelayan, tetua adat, perajin, perempuan, dan anak muda) sebagai subjek dan pemilik pengetahuan.
-
Dokumentasi Visual yang Kaya: Buku ini dimeriahkan dengan ratusan foto dokumentasi lapangan, ilustrasi, peta, dan diagram yang sangat informatif, membuat pembaca dapat membayangkan kondisi nyata di Desa Batu Itam secara visual.
-
Jembatan Antara Living Heritage dan Underwater Cultural Heritage: Keunggulan utama buku ini adalah kemampuannya merajut kehidupan budaya bahari yang masih hidup di daratan (living heritage) dengan situs arkeologi bawah air kelas dunia yaitu Belitung Shipwreck, sehingga sejarah maritim global terasa dekat dan bermakna bagi warga lokal.
-
Bahasa Lokal yang Autentik: Penggunaan istilah-istilah lokal dalam bahasa Melayu Belitung (seperti ngelakar, begawe, siro, jelitang, beselamat, dll.) yang disertai glosarium dan penjelasan rinci memperkaya khazanah bahasa dan sastra nusantara.