Buku “OMAH JAWA ‘MBUDURAN” merupakan karya penting dalam upaya pelestarian warisan budaya vernakular di Indonesia. Buku ini berhasil menjembatani kearifan lokal masa lalu agar tetap relevan dan praktis untuk diterapkan oleh masyarakat kiwari (masa kini). Sangat direkomendasikan bagi masyarakat lokal Borobudur, praktisi arsitektur, peneliti, pemerhati cagar budaya, serta pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan tata ruang kawasan perdesaan yang berkelanjutan.
Buku “OMAH JAWA ‘MBUDURAN: Pemeliharaan oleh Masyarakat di Kawasan Borobudur dan Sekitarnya” merupakan sebuah panduan praktis sekaligus dokumentasi etnografis yang sangat komprehensif mengenai pelestarian arsitektur vernakular Jawa (Omah Jawa) di lanskap budaya Borobudur. Penyusunan buku ini didukung oleh UNESCO Office Jakarta, Museum dan Cagar Budaya – Unit Warisan Dunia Borobudur, serta NFUAJ, dengan koordinasi oleh Pusat Dokumentasi Arsitektur Indonesia (PDAI) bekerja sama dengan pemerintah daerah, akademisi, dan komunitas lokal.
Ringkasan dan Struktur utama
Buku ini disusun secara sistematis menggunakan pendekatan pelestarian 4M:
-
Memahami Omah Jawa ‘Mbuduran:
-
Lanskap Budaya: Mengaitkan keberadaan Omah Jawa dengan Nilai Universal Luar Biasa (OUV) Kompleks Candi Borobudur sebagai warisan dunia. Keberadaan rumah vernakular beratap limasan dan kampung ini bahkan telah terekam pada relief Karmawibhangga di Candi Borobudur.
-
Khazanah & Falsafah: Menguraikan tata ruang (ndalem, senthong, emperan, pawon), tata letak/orientasi kosmologis, tipologi bentuk (kampung dan limasan), hingga keterikatannya dengan siklus daur hidup masyarakat agraris (mulai dari ritual mitoni, kelahiran, ngedekke omah, hingga kematian).
-
-
Membangun Omah Jawa ‘Mbuduran:
-
Kekayaan Pengetahuan Tradisional (3M): Menjelaskan tahap Menghitung Hari Baik (petungan berdasarkan neptu/weton, lokasi zona desa, dan kalender Jawa), Menyiapkan, Mengawetkan, dan Menabung Bahan (pemilihan kayu nangka/jati, teknik penebangan berbasis Pranata Mangsa, hingga tradisi merendam kayu/bambu di kolam/sungai selama bertahun-tahun), serta Mengolah, Membangun, dan Merakit.
-
Prosesi & Gotong Royong: Mendokumentasikan tahapan konstruksi (mbaturi, adeg-adeg, ngempyaki, mayoni, mageri, hingga ngeslupi) yang kental dengan budaya sambatan (gotong royong) dan ritual slametan.
-
Perkakas Tradisional: Mengenalkan berbagai alat kerja lokal karya pandhe (pengrajin besi lokal) seperti pethel, banci, wadung, ganden, dan sipat.
-
-
Memelihara dan Merawat Omah Jawa ‘Mbuduran:
-
Siklus Perawatan Rutin: Menghubungkan pemeliharaan preventif dengan kalender Jawa (harian, mingguan setiap Kamis sore, hingga bulanan/tahunan seperti pada bulan Mulud, Ruwah, dan Pasa/Nglabur).
-
Panduan Perbaikan Berbasis Material: Memberikan panduan teknis yang sangat mendetail untuk mendiagnosis masalah, penyebab, serta solusi perbaikan pada material alami seperti genting tanah liat, kayu, bambu (gedhek), batu kali, plesteran kapur, hingga elemen logam/kaca.
-
Tanggap Bencana: Menjelaskan strategi menghadapi potensi bencana khas daerah Borobudur seperti abu vulkanik, guncangan gempa bumi, dan risiko kebakaran.
-
-
Mengembangkan Omah Jawa ‘Mbuduran:
-
Menekankan fleksibilitas adaptasi fungsi bangunan modern tanpa merusak nilai keaslian dan elemen utama lanskap pekarangan (seperti later/halaman depan dan vegetasi lokal).
-
Keunggulan Buku
-
Integrasi Pengetahuan Teknis dan Nilai Budaya (Fisik & Non-Fisik): Buku ini tidak sekadar bertindak sebagai “buku petunjuk tukang”, tetapi berhasil menyatukan aspek fisik (teknik sambungan kayu, ramuan tradisional untuk pengawetan) dengan aspek non-fisik (falsafah hidup, petungan hari baik, slametan, dan tembang tradisi seperti Gatholoco).
-
Sangat Praktis dan Berorientasi Solusi Lokal: Solusi perbaikan dan pemeliharaan yang ditawarkan sangat ramah lingkungan dan berbasis bahan lokal yang terjangkau. Contohnya seperti penggunaan larutan cuka/perasan jeruk nipis untuk merawat kaca/karat, emulsi minyak atsiri sereh wangi untuk membersihkan lumut, hingga penggunaan ramuan perendam kayu dari campuran tembakau, cengkeh, dan pelepah pisang.
-
Visualisasi yang Sangat Informatif: Dilengkapi dengan ilustrasi teknis aksonometri yang rapi, denah, diagram alur, serta dokumentasi foto lapangan yang otentik. Hal ini membuat istilah-istilah lokal Jawa (seperti saka guru, blandar, molo, umpak, gedhek) menjadi sangat mudah dipahami oleh pembaca awam maupun akademisi.
-
Perspektif Keberlanjutan (Sustainability): Buku ini menggarisbawahi konsep “menabung bahan” (nyelengi) dan menanam pohon kayu keras sejak dini sebagai investasi antargenerasi untuk merawat rumah vernakular.