Oleh: Nurdin Nasyir Gusfa1 dan Andrianus Endro2

Orang jawa memiliki berbagai kesenian yang beragam. Selain menjadi media hiburan masyarakat, kesenian yang ada juga memiliki makna filosofis yang dapat menjadi media pembelajaran yang adiluhung. Dalam setiap sendi kehidupannya orang jawa selalu menyertakan makna-makna baik yang bertujuan untuk mengingatkan manusia agar selalu berkelakuan baik.

Selain keindahan alamnya, Desa Majaksingi menyimpan berbagai kesenian jawa yang beragam. Mungkin orang-orang di Desa Majaksingi memiliki darah seni yang mengalir dalam setiap nadinya. Berbagai kesenian jawa seperti Karawitan, Jathilan, Sholawat, Ketoprak, Rebana, dan Gatoloco pernah menjadi kesenian yang eksis di Desa Majaksingi. Untuk nama terakhir, yaitu gatoloco tepatnya dimainkan oleh orang-orang dari Dusun Butuh, Desa Majaksingi. Namun sayang kesenian ini sedang mengalami fase tidur sejak tahun 1997 atau sudah sekitar 25 tahun lalu. Namun saat ini masyarakat mulai tergerak untuk membangunkannya lagi dari fase tidur yang Panjang.

Mbah Sumartono, salah satu sesepuh yang dahulu aktif bermain gatoloco menceritakan bagaimana kesenian gatoloco. Dengan wajah berbinar dia bercerita bagaimana kesenian ini dimainkan dan berbagai makna filosofis yang terkandung di dalamnya. Gatholoco diambil dari singkatan “digothak gathoke ming lucu”. Gatoloco sendiri merupakan kesenian berupa tarian yang diiringi musik dari terbangan dan lagu lagu bermakna filosofi jawa.

Dalam kesenian gatoloco memuat isi beberapa siklus kehidupan. Mbah Sumar bercerita beberapa hal, seperti Pepetangan tiyang gesang, Pepetangan jodo, Petung weton lan sasi jowo, Laku maten (Nogo Tahun, Poncosudo), Pepetangan pindah griyo. Pepetangan kanggo nyedekahi wong mati.

Salah satu cerita menarik adalah tentang Pepetangan kanggo nyedekahi wong mati. Mbah Sumar menyebutkan beberapa penggalan kalimat dalam gatoloco, seperti:

  • NOMOSARMO ( dino limo pasaran limo) untuk 40 hari
  • NOROSARMO (dino loro pasaran  limo )  untuk 100 hari
  • NOPATSARPAT ( dino papat pasaran papat ) untuk 1 tahun untuk 2 tahun mengikuti tangaal kematian
  • NONEMSARMO ( dino enem pasaran limo ) untuk 1000 hari

Singkatan-singkatan tersebut jika diaplikasikan dalam kehidupan nyata dapat mempermudah kita untuk menghitung hari pasaran Jawa yang tepat untuk tradisi peringatan kematian. Selain itu ada sisi humor di dalamnya karena disingkat tersebut.

Terkadang mbah Sumar ditanya oleh beberapa orang untuk menghitung hari, “pak njuk suk le nyewu sasi nopo, wong mati pas sasi ruwah pas februari? Sesuk yo November”. Ada kejadian pasangan suami istri. Sang istri asalnya dari daerah banyumas, lalu suami berasal dari Dusun Butuh, Desa Majaksingi. Sebelum lahiran malah mengalami sakitan karena ketika menikah salah hitungan. “Umpamane ngulon ki sasine besar, kok iki bakda mulud diterjang. Ngoten niku mboaten pekoleh. Nek itungan ngeneki nang ndi ndi yo kudu pekoleh”. Sang istri ketika hamil 4 bulan malah sakit maag, lalu dibawa rumah sakit, lalu akhirnya dirawat di keluarga perempuan, “nah kados niku nggih malah akhire repot toh mas, cobi nek tertib le itungane”

Bapa Sumartono / Mbah Sumar

Dengan nilai-nilai yang luhur itu, sangat disayangkan bahwa saat ini kesenian Gatoloco sedang macet. Jika dirunut sejarah mulai berhentinya kesenian Gatoloco adalah ketika dahulu sempat mau pentas untuk HUT RI sekitar tahun 1997, namun tidak jadi dilaksanakan. Sejak saat itu hingga sekarang sudah tidak bergerak lagi. Ada titik cerah tentang kelanjutan kesenian gatoloco, datangnya tim eksotika desa dan antusiasme dari para generasi muda untuk belajar dan generasi tua juga rindu yang akhirnya akan mencoba mengajari generasi muda untuk menghidupkan lagi Gatoloco.

Kesenian gatoloco menunjukan bahwa kita bisa menikmati hiburan sambil belajar tentang kehidupan secara berbarengan. Menjadi nilai yang sangat menarik karena bisa menjadi media belajar yang menyenangkan di era modern dan serba digital.


  1. Penulis ‘Nurdin Nasyir Gusfa’ adalah Pendamping/Fasilitator dalam program Pemajuan kebudayaan Desa – KMA tahun 2022 yang mendamping Desa Majaksingi. Nurdin, panggilan akrabnya, juga merupakan lulusan Arkeologi UGM ↩︎
  2. Penulis ‘Andrianus Endro, merupakan Penggerak/Daya Desa. asli kelahiran Dusun Kerugbatur, Desa Majaksingi. Semenjak memutuskan berhenti bekerja di perusahaan dan kembali ke dusun, beliau menikmati hidup sebagai petani dan peternak ↩︎

Ulasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel /Konten Terkait

Anda berada di :

logo kementrian-pendidikan-kebudayaan-riset-dan-teknologi
KEMENTRIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET DAN TEKNOLOGI
logo pemkab dan pemdes
PEMERINTAH DESA MAJAKSINGI
logo desa budaya majaksingi
DESA BUDAYA MAJAKSINGI
QR Code
logo 1 dekade eksotikadesa
Gotong royong demi Desa indah lestari