(Oleh Zurdhan Ageng Pamuji dan Khoirul Fai)

Narasi

Di Desa Sambeng khususnya Dusun Kedungan 1, masih erat dengan budaya menyiapkan sesaji untuk leluhur. Biasanya sesaji atau sajen disediakan setiap acara-acara tertentu atau hari-hari tertentu misal pada malam Jumat

Menurut bapak Nur Fatoni, menyiapkan pancen di malam Jumat sudah tradisi dari zaman dahulu. Ini dilakukan guna untuk mengirim arwah leluhur yang sudah tidak ada. Istilah pancen sendiri adalah panci  wes wancine leluhur kita pulang ke rumah untuk untuk minta sajen dan minta kirim doa. Perbedaan antara pancen dan sajen, sajen merupakan istilah yang digunakan untuk ritual besar sedangkan pancen, ritual yang dilakukan oleh pribadi dan keluarga.

Jadi istilah pancen adalah menyiapkan makanan atau minuman yang disukai leluhur kita di rumah masing-masing. Kelir makanan setiap rumah berbeda-beda, tapi kali ini saya akan mengulas pancen yang sering dibuat keluarga Pak Nur Fatoni (63).

Bapak Nur Fatoni sebagai narasumber

Pak Nur Fatoni menjelaskan bahwa yang biasa ia siapkan untuk pancen meliputi teh pahit, teh manis, kopi pahit, kopi manis, air putih, wedang jahe, nginang suroh, rokok, kembang setaman, uang. Jika leluhur yang dikirim pancen wanita maka rokok dihilangkan. Akan tetapi jika leluhur yang dikirim pancen lelaki maka nginang suroh yang dihilangkan.

Adapun maksud kembang setaman mewakili pengharapan agar kita senantiasa mendapatkan keharuman para leluhur. Keharuman yang dimaksud yaitu berupa nasihat, pelajaran, berkah, dan kekayaan spiritual yang diharapkan akan diwariskan secara turun-temurun. Isi dari kembang setaman ada mawar, melati, kantil, dan kenanga. Ini memiliki arti, perpaduan bunga yang ada di taman dan dijadikan uborampe, maka ibaratnya harapan itu seperti indahnya taman.

 

Gambar

Narasumber

  • Bapak Nur Fathoni, 63 tahun, pemerhati budaya desa Sambeng

Relasi Budaya

Sumber Lain

Dari Kanal

Ulasan...