“Pangan Biru dan Pengetahuan Tradisional di Kampong Batu Itam” adalah sebuah dokumen model pendokumentasian desa yang patut dijadikan teladan nasional. Buku ini berhasil merajut dengan apik antara ekologi, teknologi tradisional (perahu dan siro), kearifan lokal (astronomi dan navigasi), kuliner, hingga potensi ekonomi kreatif masa kini. Buku ini tidak hanya layak menjadi koleksi perpustakaan, tetapi juga panduan hidup (living guide) bagi upaya pemajuan kebudayaan bahari di Indonesia.
Kehadiran buku ini sangat sejalan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan dan visi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam mengoptimalkan potensi pangan biru. Buku ini membuktikan bahwa ketahanan pangan tidak harus selalu bertumpu pada daratan, melainkan sektor kelautan dan perairan darat juga memegang peranan krusial. Bagi generasi muda Desa Batu Itam, buku ini berfungsi ganda: sebagai identitas kultural sekaligus panduan inovatif untuk mengembangkan desa wisata berbasis kearifan lokal.
Buku ini dibagi ke dalam beberapa bab utama yang mengupas tuntas tiga ruang kehidupan utama di Batu Itam:
-
Laut dan Galangan Kapal: Membahas kondisi geografis Belitung dan Desa Batu Itam yang berhadapan langsung dengan Selat Gaspar. Bab ini juga mendokumentasikan secara detail jenis-jenis perahu tradisional (Jungkong, Kater, Kulek, Boat, hingga Kapal besar) serta anatomi dan teknik pembuatan perahu di Galangan Kapal Tanjung Kubu yang menggunakan sistem pasak kayu. Menariknya, bab ini juga mengulas situs sejarah Belitung Shipwreck—kapal dhow Arab abad ke-9 yang tenggelam di Selat Gaspar bermuatan ribuan keramik Changsa Tiongkok—serta potensi pemanfaatannya untuk industri kreatif.
-
Besiro dan Ketahanan Pangan Lokal (Pesisir Berkarang): Mengupas tradisi besiro, yaitu teknik menangkap ikan menggunakan perangkap raksasa berukuran hingga 150 meter di zona pasang-surut pantai (kerakah). Buku ini membedah anatomi siro (dari bunun mati hingga penuju), kalender musim berbasis astronomi lokal (seperti rasi bintang Kartike dan Belantik), serta dilengkapi dengan beragam resep kuliner tradisional khas berbahan hasil tangkapan siro (seperti gangan, pais, dan sambal lingkong).
-
Nimong & Upaya Pelestarian Hutan Bakau: Menyoroti tradisi nimong (mencari kerang bakau/timong) yang mayoritas dilakukan oleh kaum perempuan di hutan bakau seluas 142 hektar. Bab ini merinci teknik mencari timong (melihat mata, nurih, dan ngenjuring), kandungan gizi timong, keanekaragaman flora-fauna hutan bakau, fungsi mitigasi bencana, hingga resep olahan masakan timong.
Beberapa keunikan penyajian buku ini ;
- Pendekatan Partisipatif yang Kuat: Buku ini bukan sekadar hasil riset akademis dari “meja kerja”, melainkan suara dari masyarakat lokal sendiri yang menentukan apa yang penting untuk diceritakan dan dilestarikan.
-
Visualisasi yang Memukau: Tata letak (layout) buku ini sangat kaya akan ilustrasi, foto lapangan berkualitas tinggi, infografis anatomi perahu/siro, hingga sketsa tangan yang membuat pembaca dari berbagai kalangan mudah memahami isi buku.
-
Perspektif Pembangunan Berkelanjutan (SDGs): Buku ini berhasil menjembatani antara pelindungan warisan budaya tak benda/pengetahuan tradisional dengan strategi pengembangan ekonomi lokal (pariwisata edukasi/eduwisata dan industri kreatif), sejalan dengan target SDG 2 (Tanpa Kelaparan) dan SDG 14 (Kehidupan di Bawah Air).
-
Jembatan Antara Living Heritage dan Underwater Cultural Heritage: Keunggulan utama buku ini adalah kemampuannya merajut kehidupan budaya bahari yang masih hidup di daratan (living heritage) dengan situs arkeologi bawah air kelas dunia yaitu Belitung Shipwreck, sehingga sejarah maritim global terasa dekat dan bermakna bagi warga lokal.
-
Bahasa Lokal yang Autentik: Penggunaan istilah-istilah lokal dalam bahasa Melayu Belitung (seperti ngelakar, begawe, siro, jelitang, beselamat, dll.) yang disertai glosarium dan penjelasan rinci memperkaya khazanah bahasa dan sastra nusantara.