Riwayat Kesenian Gatholoco Desa Candirejo- Pemajuan Kebudayaan Desa

Di dalam proses temu kenali, selain kesenian jatilan yang menjadi potensi unggulan karena memiliki 4 kelompok seni dalam 1 desa, Candirejo juga memiliki kesenian lain yang masih tetap aktif berkesenian ataupun yang vakum. Kesenian ini antara lain gatholoco, ketoprak, topeng ireng dan pituturan.

Perkembangan Gatholoco di Desa Camdirejo

Kesenian yang juga berkembang di Desa Candirejo adalah kesenian gatholoco. Cerita mengenai gatholoco ini didapat dengan mengunjungi beberapa maestro yang mengetahui seluk-beluk gatholoco, di antaranya adalah Mbah Martono dan Mbah Jarwo yang tinggal di Dusun Brangkal.

Awal mula berkembangnya kesenian ini adalah ketika para tetua adat mencoba untuk membaca perhitungan dengan dibubuhi nada sehingga terdengar seperti tembang atau lagu. Setelah itu, masyarakat mulai merepresentasikannya dengan menggunakan tarian serta iringan musik. Hal ini bertujuan agar isi dalam perhitungan Jawa tersebut mudah diingat dan diajarkan pada masyarakat luas sebagai sebuah kesenian yang berisi petuah serta pembelajaran.

Dari semua kelompok kesenian yang ada di Dusun Brangkal, gatholoco bisa disebut juga sebagai cikal bakal tumbuhnya kesenian lainnya yang berdiri sejak tahun 1920an. Dusun Brangkal sendiri merupakan dusun tertua di Desa Candirejo, sehingga sangat dimungkinkan bahwa kesenian ini sudah ada sejak nenek moyang pendiri Desa Candirejo.

Menurut penuturan Mbah Jarwo, gatholoco hanya berkembang di Dusun Brangkal. Biasanya, masyarakat desa yang tengah mengadakan acara tradisi akan mengundang kesenian gatholoco untuk tampiI sebagai hiburan.

Selain sebagai hiburan, tarian dan lagu pada kesenian gatholoco juga masih memegang erat budaya serta tradisi perhitungan tentang masa tanam dalam bidang pertanian, maupun tentang perhitungan Jawa lainnya. Diyakini oleh masyarakat suku Jawa pada umumnya, bahwa setiap hal yang dilakukan dalam kehidupan, dari peristiwa kelahiran maupun kematian, pernikahan, pekerjaan, bahkan mengenai sifat anak menurut waktu kelahirannya ada perhitungan, makna dan saran yahg harus dilakukan agar terhindar dari marabahaya. Seiring berjalannya waktu namanya diubah menjadi “Wulang Sunu”. Wulang Sunu berasal dari bahasa Jawa, yaitu wulan yang berarti mengajari atau mendidik, sedangkan sunu artinya anak. Jadi Wulang Sunu berarti mendidik anak.


Ulasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel /Konten Terkait