Pengawetan Bambu
Bambu memiliki keawetan yang sangat rendah, mudah diserang mikro organisme… Selengkapnya »Pengawetan Bambu
Bambu memiliki keawetan yang sangat rendah, mudah diserang mikro organisme… Selengkapnya »Pengawetan Bambu
Material bambu telah digunakan secara turun temurun oleh masyarakat sebagai… Selengkapnya »Konstruksi Berbahan Bambu Tanggap Bencana
Oleh: Fifi Ratna Kebudayaan dalam suatu daerah seringkali memiliki karakteristik… Selengkapnya »Anatomi Bambu Berdasarkan Kearifan Lokal Masyarakat Desa Kebonsari
Nilai bambu tidak berhenti pada fungsi ekologis. Dalam kebudayaan masyarakat,… Selengkapnya »Pentingnya Ekosistem Kebudayaan Berbasis Bambu
Di banyak wilayah pedesaan, rumpun bambu juga sering tumbuh di… Selengkapnya »Rumpun Bambu Sebagai Penjaga Mata Air
Rumpun bambu berperan penting dalam menjaga kawasan perbukitan karena sistem… Selengkapnya »Rumpun Bambu Sebagai Penjaga Lereng & Perbukitan
Salah satu upaya pengembangan dan pemanfaatan potensi bambu di Kebonsari… Selengkapnya »Wisata Budaya Bambu
Sejalan dengan nasihat atau pituturan di atas, terdapat tujuh buah lampu melingkar di bawah instalasi stupa bambu.Tujuh buah lampu tersebut menjadi simbol “pitu” yang dalam falsafah jawa, pitu memiliki tujuh pemaknaan yang muaranya adalah mendapatkan pitulungan dari Tuhan Yang Maha Memberi Pertolongan agar kita semua dijauhkan dari sifat angkara murka dan senantiasa dilimpahi keberkahan.
Lorong masuk Pitutur Bambu Borobudur ini terinspirasi dari relief Jataka di candi Borobudur. Dalam relief jataka, berisi ukiran fabel (cerita dengan hewan sebagai penokohannya) yang menggambarkan kehidupan Sidharta Gautama dalam wujud tokoh hewan dengan perwatakan adiluhung yang dapat dijadikan teladan bagi setiap orang. Cerita tersebut memang syarat dengan kandungan makna dan nilai-nilai moral.
Di Pitutur Bambu Borobudur, lorong Jataka ini menjadi tempat berkumpulnya para binatang Jataka. Para hewan ini seperti sedang menyambut para pengunjung yang melintasi menuju dalam dunia Pitutur Bambu Borobudur yang mengisahkan interaksi kehidupan mas-yarakat kawasan Borobudur dengan alam sekitarnya; mengakrabi mahluk lain dan ngunduh wohing pakarti dari apa yang telah ditemui yang tak luput dari itu adalah tanaman bambu.
Kelinci, ikan, puyuh, angsa, kera, rusa, gajah, kerbau, burung pelatuk, singa, naga, penyu, merpati, lembu, banteng, elang, harimau, merak, dan kuda sembrani ini memiliki kisah-kisah yang mengingatkan kita untuk senantiasa menjadi insan yang baik di dunia. Setiap kebaikan ini terwujud dalam sebuah pendar kuning lampu yang menjadi penerang jalan bagi para pengunjung, bekal pencahaya untuk menjelejahi setiap jengkal dunia Pitutur Bambu. Seakan mereka berkumpul untuk melayangkan do’a dan harapan dalam Pitutur Bambu ini untuk kita semua, agar menjadi sebuah pendar cahaya yang memancarkan kebaikan hati bagi setiap insan layaknya para hewan jataka yang bijak.
Seperti judulnya, pojok penge-tahu-an mencoba menghadirkan berbagai macam hal terkait industri rumahan tahu yang menjadi ekosistem