Kelinci Sasa: Mendermakan Tubuh Sendiri
Relief cerita Jataka Sang Kelinci’ ada di Lantai 1 dinding luar sebelah Timur (Lihat di diagram)
Relief cerita Jataka Sang Kelinci’ ada di Lantai 1 dinding luar sebelah Timur (Lihat di diagram)
Bodhisattwa berkorban untuk induk harimau, mencegah dari memakan anakanya sendiri.
‘Ayam Jago’ di Lorong Jataka ini menceritakan bagaiman hewan-hewan Jataka bertemu penduduk lokal dalam hal ini desa-desa di sekitar Borobudur.
Bodhisattwa terlahir sebagai kera agung yang menyelamatkan orang tersesat pengikutnya dengan mengorbankan nyawanya sendiri
Relief cerita Jataka Angsa ada di Lantai 1 dinding luar sebelah Selatan (Lihat di diagram)
Relief cerita Jataka Sang Gajah ada di Lantai 1 dinding luar sebelah Selatan (Lihat di diagram)
Relief cerita Jataka Sang Kerbau ada di Lantai 1 dinding luar sebelah Selatan (Lihat di diagram)
Lorong masuk Pitutur Bambu Borobudur ini terinspirasi dari relief Jataka di candi Borobudur. Dalam relief jataka, berisi ukiran fabel (cerita dengan hewan sebagai penokohannya) yang menggambarkan kehidupan Sidharta Gautama dalam wujud tokoh hewan dengan perwatakan adiluhung yang dapat dijadikan teladan bagi setiap orang. Cerita tersebut memang syarat dengan kandungan makna dan nilai-nilai moral.
Di Pitutur Bambu Borobudur, lorong Jataka ini menjadi tempat berkumpulnya para binatang Jataka. Para hewan ini seperti sedang menyambut para pengunjung yang melintasi menuju dalam dunia Pitutur Bambu Borobudur yang mengisahkan interaksi kehidupan mas-yarakat kawasan Borobudur dengan alam sekitarnya; mengakrabi mahluk lain dan ngunduh wohing pakarti dari apa yang telah ditemui yang tak luput dari itu adalah tanaman bambu.
Kelinci, ikan, puyuh, angsa, kera, rusa, gajah, kerbau, burung pelatuk, singa, naga, penyu, merpati, lembu, banteng, elang, harimau, merak, dan kuda sembrani ini memiliki kisah-kisah yang mengingatkan kita untuk senantiasa menjadi insan yang baik di dunia. Setiap kebaikan ini terwujud dalam sebuah pendar kuning lampu yang menjadi penerang jalan bagi para pengunjung, bekal pencahaya untuk menjelejahi setiap jengkal dunia Pitutur Bambu. Seakan mereka berkumpul untuk melayangkan do’a dan harapan dalam Pitutur Bambu ini untuk kita semua, agar menjadi sebuah pendar cahaya yang memancarkan kebaikan hati bagi setiap insan layaknya para hewan jataka yang bijak.